"Saya kan tadinya di depan pinggir jalan, saya beli saya bangun (rumah dan warung sate)," ucapnya.
Di area warung sate dan tongseng milik Ngadenin, terdapat pula sebuah warung ayam bakar milik tetangganya. Namun seiring berjalannya waktu, tetangga Ngadenin itu menjual lahan lapak ayam bakar ke pengusaha hotel.
Sejak itu, Ngadenin juga dipaksa untuk menjual lapak usaha beserta rumah ke pengusaha hotel. Paksaan itu diiringi juga dengan ancaman yang akhirnya membuat Ngadenin merasa takut.
"Saya ditakut-takutin kalau enggak mau jual ke dia (pemilik hotel), nanti saya ditakut-takuti akan dikurung, ditutup (akses jalan) akhirnya saya nyerah," ujarnya.
Akhirnya, Ngadenin terpaksa menjual rumah dan lapak usahanya ke pihak hotel meski dengan harga yang sangat rendah menurutnya. Sebab, hasil jual lahan itu tak cukup untuk membeli lahan atau rumah dengan luas yang sama.
"Ditawar harganya sangat sangat rendah, tidak sesuai kalau buat beli rumah pengganti enggak dapet, setengah saja enggak dapat," kata dia.
Hingga akhirnya Ngadenin terpaksa pindah ke sebuah rumah yang berada tak jauh dari lokasi awal dirinya tinggal.
Mulanya, sang pemilik rumah sempat berkata kepada Ngadenin bahwa akses jalan rumah itu merupakan sebuah tanah waqaf.
Baca Juga: Viral! Ngaku Jadi Intel, Bandit di Bekasi Bawa Kabur Motor Pedagang Kangkung
Namun, setelah sekitar 10 tahun ia menempati rumah itu ternyata akses jalan itu dimiliki pihak hotel.
"Saya beli di sini awalnya ada jalan, katanya sudah diwakafkan, tapi akhirnya dijual semua ke hotel sama jalannya saya enggak tahu," ucapnya.
Sejak saat itu, rumah Ngadenin dan satu orang tetangganya tertutup bangunan hotel. Akses jalan yang membutuhkan usaha ekstra itu membuat dirinya dan sang istri lelah jika harus bolak balik keluar rumah.
Alhasil, Ngadenin dan sang istri kini tinggal di Warung Sate Solo Pak Dadi di Jalan Anugerah Raya Jatiwaringin yang letaknya sekitar 100 meter dari rumahnya.
Kontributor: Mae Harsa
Berita Terkait
-
Viral! Ngaku Jadi Intel, Bandit di Bekasi Bawa Kabur Motor Pedagang Kangkung
-
Persikabo 1973 Harus Hijrah ke Bekasi, Ini Penyebabnya
-
Diminta Bantu Mikir oleh Heru Budi Atasi Kemacetan Jakarta, Begini Respon Plt Wali Kota Bekasi
-
Melihat Lebih Dekat Depo LRT di Jatimulya Bekasi
-
Akses Jalan di Green Village Bekasi Ditutup Pagar Beton, Pengacara Warga: Lawan Mafia Tanah!
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Waketum MUI Jadi Saksi Meringankan Dugaan Korupsi Haji Eks Menag Yaqut Cholil
-
26 Sengketa Pilkades Bekasi, Dugaan Ijazah Palsu Mendominasi
-
Hampir 500 Petinju Ramaikan Kejurnas 2026, Hillary Brigitta Lasut Soroti Perjuangan Atlet
-
Kali Harun Menyusut Jadi 1 Meter, 4 Rumah Jadi Kendala Normalisasi
-
Pertina Akui Sulit Cari Bibit Petinju Kelas Berat, Berharap MBG Bantu Tumbuh Kembang Anak