- Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran oleh Majelis Ahli setelah ayahnya wafat akibat serangan udara AS dan Israel.
- Ulama 56 tahun ini terpilih mengikuti prosedur konstitusional, bukan melalui sistem pewarisan meskipun memiliki latar belakang keluarga yang kuat.
- Penunjukan ini terjadi saat Iran menghadapi ketidakpastian domestik dan meningkatnya konflik regional yang disertai ancaman pembunuhan dari Israel.
Ia mempelajari fikih Islam dan teologi di bawah bimbingan sejumlah ulama konservatif terkemuka, termasuk Ayatollah Mahmoud Hashemi Shahroudi, Ayatollah Lotfollah Safi Golpaygani, dan Mohammad-Taqi Mesbah-Yazdi, seorang ahli ideologi berpengaruh yang membimbing banyak tokoh politik konservatif di Iran.
Menurut para analis Iran, Mojtaba menghabiskan sebagian besar kariernya dengan mengajar di lembaga pendidikan calon ulama Qom, termasuk mengajar kelas fikih tingkat lanjut yang dikenal sebagai dars-e kharej, yang dianggap sebagai tingkat pendidikan tertinggi di lembaga pendidikan serupa.
Sejumlah laporan terbaru menyebutkan Mojtaba sempat menghentikan sementara beberapa kelasnya karena alasan pribadi, meskipun hal itu tidak dapat dikonfirmasi secara independen.
Meski telah lama berada dalam lingkungan ulama, Mojtaba tidak pernah memegang jabatan resmi di pemerintahan atau menjabat dalam posisi eksekutif maupun jabatan yang dipilih melalui pemilihan umum.
Peran dan pengaruh
Media internasional kerap menggambarkan Khamenei sebagai figur tertutup dengan kemungkinan pengaruh di balik layar.
Minimnya penampilan publik memperkuat citra tersebut, karena hampir tidak ada pidato publik panjang, wawancara, atau manifesto politik yang menjelaskan secara rinci tentang pandangan-pandangannya.
Nama Mojtaba secara berkala muncul dalam diskusi politik di Iran, biasanya terkait pemilihan presiden atau spekulasi mengenai kandidat yang mungkin ia dukung.
Namun, Mojtaba sendiri jarang terlibat langsung dalam perdebatan politik di ruang publik. Penampilannya sebagian besar terbatas pada upacara resmi, peringatan nasional, dan pertemuan keagamaan yang diliput oleh media pemerintah Iran.
Baca Juga: Teheran Minta Rusia Gunakan Pengaruh Global untuk Dukung Hak Sah Iran
Terakhir kali ia terlihat di depan publik adalah saat menghadiri aksi unjuk rasa pro-pemerintah setelah gelombang protes luas yang terjadi pada awal tahun ini.
Menurut laporan di Iran, ia juga pernah ikut serta dalam Perang Iran-Irak pada akhir 1980-an ketika ayahnya menjabat sebagai presiden.
Mojtaba dilaporkan bergabung dengan unit relawan saat masih muda, yang menjadi pengalaman pertamanya dalam urusan militer.
Sejumlah media Barat juga mengaitkannya dengan Korps Garda Revolusi Islam, salah satu institusi paling berpengaruh di Iran, meskipun ia tidak memegang peran resmi dalam organisasi tersebut.
Suksesi di tengah ancaman
Mojtaba Khamenei mengambil alih kepemimpinan Iran pada salah satu momen paling bergejolak dalam sejarah modern Iran.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Panitia Batalkan Undang Raffi Ahmad di GSI Youth Fest Hero Summit
- Sejumlah Jenderal Diperiksa Propam, Ini Respons Mabes
- Jenderal Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo
- Margarito Kamis Jelaskan Isi Putusan MA, RI Tak Lagi Punya Wakil Presiden yang Sah?
Pilihan
-
Helikopter Penerbad Mi-17 Jatuh Saat Padamkan Karhutla di Pematang Limau, Dua Personel Hilang
-
Hanya Sebulan di Istana, Presiden Prabowo Pecat Listyo Sigit Prabowo
-
Tersandung Skandal Penyadapan, Prabowo Pecat Listyo Sigit dari KSP dan Tunjuk Letjen Ariyo Jadi Plt
-
Nusron Wahid Diperiksa KPK Terkait Suap HGB
-
Konser Andrea Bocelli di JIExpo Ricuh: Massa Bakar Pembatas Jalan, Wartawan Terhantam Batu
Terkini
-
KPK Buka Peluang Hadirkan Ahmad Dhani sebagai Saksi Kasus Bea Cukai
-
Apa Penyebab Truk Molen Tabrak Halte di Bekasi, 6 Orang Tewas
-
Polresta Bogor Minta Maaf soal Intimidasi Jurnalis, Anggota Polisi Dijatuhi Sanksi
-
Seret Nama Pejabat ATR/BPN hingga Politisi, Ini Fakta Terbaru Kasus Korupsi Summarecon
-
Bikin Polusi Udara Parah, Pabrik Arang di Bekasi Disegel