- Sejumlah tokoh lintas generasi berdiskusi dengan Jusuf Kalla di Jakarta Selatan mengenai kepemimpinan dan ekonomi negara, Sabtu (7/3/2026).
- Peserta diskusi ingin mempelajari pengalaman Jusuf Kalla serta menyoroti isu kriminalisasi aktivis dan kebijakan makan gratis.
- Jusuf Kalla menekankan bahwa pertemuan tersebut fokus mencari gagasan perbaikan negara tanpa agenda politik menjatuhkan pemerintah.
SuaraBekaci.id - Sejumlah tokoh lintas generasi menggelar diskusi bersama Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, di kawasan Jakarta Selatan, Sabtu (7/3/2026).
Pertemuan tersebut membahas isu kepemimpinan nasional, kondisi ekonomi, serta berbagai tantangan yang dihadapi negara.
Pakar Hukum Tata Negara Feri Amsari mengatakan pertemuan itu bertujuan belajar dari pengalaman Jusuf Kalla yang pernah menjabat sebagai wakil presiden, menteri, ketua partai, hingga juru damai di berbagai konflik.
Menurutnya, pengalaman tersebut penting dalam konteks krisis kepemimpinan global yang saat ini terjadi di berbagai negara.
“Penyelenggaraan negara tidak boleh menggunakan insting dan cara instan. Itu yang kami pelajari dari konsep dan pengalaman Pak JK,” kata Feri kepada wartawan usai diskusi.
Selain membahas kepemimpinan, Feri juga mengungkapkan para peserta berdiskusi mengenai berbagai persoalan ekonomi yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara.
Dalam kesempatan itu, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto,juga menyoroti sejumlah isu, termasuk dugaan kriminalisasi terhadap aktivis.
Tiyo menyebut, terdapat ratusan aktivis yang saat ini masih berstatus tersangka.
Ia mengibaratkan Indonesia sebagai “bus besar” yang membawa sekitar 280 juta rakyat sebagai penumpang.
Baca Juga: Perbedaan Krusial Zakat dan Pajak Menurut Jusuf Kalla
Bus tersebut, kata dia, saat ini dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Sebagai penumpang, rakyat berhak memberi teguran kepada sopir ketika arah perjalanan tidak sesuai dengan tujuan besar negara,” ujarnya.
Ia juga menyinggung kebijakan program makan bergizi gratis yang dinilai perlu dikaji secara lebih tepat sasaran agar tidak mengganggu anggaran sektor lain, terutama pendidikan.
Sementara itu, akademisi dan rektor Universitas Rakyat Negeri Sudirman Said menilai Indonesia saat ini menghadapi krisis kepemimpinan yang ditandai semakin langkanya kepemimpinan berbasis nilai intrinsik.
“Kepemimpinan sejati dasarnya adalah integritas, visi, kebijaksanaan, pengetahuan, dan idealisme. Nilai-nilai ini yang makin langka dalam panggung kekuasaan,” kata Sudirman.
Menurutnya, dalam kondisi krisis, negara justru membutuhkan tipe kepemimpinan yang berlandaskan nilai intrinsik tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
26 Sengketa Pilkades Bekasi, Dugaan Ijazah Palsu Mendominasi
-
Hampir 500 Petinju Ramaikan Kejurnas 2026, Hillary Brigitta Lasut Soroti Perjuangan Atlet
-
Kali Harun Menyusut Jadi 1 Meter, 4 Rumah Jadi Kendala Normalisasi
-
Pertina Akui Sulit Cari Bibit Petinju Kelas Berat, Berharap MBG Bantu Tumbuh Kembang Anak
-
BRI Siapkan Buyback Saham Tahap II Rp1 Triliun, Tegaskan Optimisme Pertumbuhan