- Jusuf Kalla di Jakarta, Minggu (1/3/2026), menekankan peran zakat, wakaf, dan pajak bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia.
- Wakaf dan sumbangan masyarakat sangat penting membangun sekitar 800 ribu masjid serta berbagai lembaga pendidikan di Indonesia.
- Kalla menjelaskan zakat 2,5% dari aset berbeda dengan pajak dari keuntungan, serta mendorong peningkatan kepemilikan aset umat Islam.
SuaraBekaci.id - Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla, menegaskan bahwa zakat, wakaf, dan pajak memiliki peran penting dalam pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Jusuf Kalla kepada wartawan di kediamannya di Jakarta, Minggu (1/3/2026).
Menurut Kalla, zakat merupakan kewajiban bagi umat Islam dan memiliki posisi strategis dalam mendukung perekonomian umat.
Namun demikian, ia menekankan bahwa wakaf dan sumbangan masyarakat juga tidak kalah penting dalam pembangunan berbagai fasilitas keagamaan dan pendidikan.
“Di Indonesia, zakat itu penting, wajib. Sumbangan wakaf dan lainnya juga berjalan. Keduanya jalan,” ujar Kalla.
Ia menyebutkan, terdapat sekitar 800 ribu masjid di Indonesia yang sebagian besar dibangun melalui wakaf dan sumbangan masyarakat, bukan semata-mata dari dana zakat.
Selain masjid, berbagai madrasah, sekolah, dan lembaga pendidikan juga berdiri berkat kontribusi wakaf dan donasi umat.
“Kita punya ratusan ribu masjid. Itu tidak dibangun dengan zakat, tetapi dengan wakaf dan sumbangan. Begitu juga banyak madrasah dan sekolah,” katanya.
Lebih lanjut, Kalla membandingkan mekanisme zakat dengan pajak. Ia menjelaskan bahwa pajak umumnya dihitung berdasarkan keuntungan atau penghasilan, dengan tarif tertentu seperti 20 hingga 25 persen dari laba.
Baca Juga: 3 Jurus Rahasia JK, Agar PTN-BH Tidak Jadikan Mahasiswa 'ATM'
Sementara itu, zakat dihitung sebesar 2,5 persen dari aset yang dimiliki.
“Kalau pajak itu dari keuntungan. Kalau zakat 2,5 persen dari aset. Jadi dampaknya bisa besar karena dihitung dari total aset,” jelasnya.
Ia mencontohkan, jika seseorang memiliki aset dalam jumlah besar namun keuntungan yang diperoleh relatif kecil, maka perhitungan zakat tetap didasarkan pada nilai aset tersebut.
Dalam kesempatan itu, Kalla juga mendorong umat Islam untuk meningkatkan kepemilikan aset agar kontribusi terhadap zakat semakin besar dan memberi dampak luas bagi kesejahteraan masyarakat.
“Aset itu banyak dimiliki bukan oleh orang Islam. Jadi kita orang Islam harus meningkatkan kemampuan dan kepemilikan aset,” ujarnya.
Kalla berharap perdebatan mengenai zakat dan pajak tidak berkembang secara liar di tengah masyarakat, melainkan difokuskan pada upaya memperkuat ekonomi umat melalui peningkatan aset dan optimalisasi pengelolaan zakat serta wakaf.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
26 Sengketa Pilkades Bekasi, Dugaan Ijazah Palsu Mendominasi
-
Hampir 500 Petinju Ramaikan Kejurnas 2026, Hillary Brigitta Lasut Soroti Perjuangan Atlet
-
Kali Harun Menyusut Jadi 1 Meter, 4 Rumah Jadi Kendala Normalisasi
-
Pertina Akui Sulit Cari Bibit Petinju Kelas Berat, Berharap MBG Bantu Tumbuh Kembang Anak
-
BRI Siapkan Buyback Saham Tahap II Rp1 Triliun, Tegaskan Optimisme Pertumbuhan