- Segera pisahkan dana THR berdasarkan alokasi kebutuhan, termasuk alokasi untuk tabungan atau investasi jangka panjang.
- Prioritaskan pembayaran kewajiban finansial seperti zakat dan pelunasan utang sebelum mengalokasikan untuk gaya hidup sekunder.
- Buat daftar belanja terperinci dan kendalikan tekanan sosial untuk menghindari pengeluaran tanpa arah dan pemborosan.
SuaraBekaci.id - Tunjangan Hari Raya (THR) selalu jadi momen yang ditunggu. Nominalnya kadang setara satu kali gaji, bahkan lebih.
Namun, tak sedikit yang justru kehabisan dana sebelum bulan berganti.
Euforia belanja, tekanan sosial, hingga keinginan tampil maksimal saat Lebaran kerap membuat THR menguap tanpa jejak.
Agar Idul Fitri tetap dirayakan dengan hati lapang—bukan kepala pening—ada strategi sederhana namun efektif dalam mengelola dan membelanjakan THR.
Baca Juga:BRI Jamin Keandalan E-Channel demi Transaksi Lancar saat Lebaran
1. Pisahkan Dulu, Jangan Langsung Dibelanjakan
Begitu THR cair, tahan diri. Jangan langsung tergoda diskon atau flash sale. Langkah pertama adalah memisahkan dana berdasarkan pos kebutuhan.
Skema yang bisa digunakan misalnya:
30–40 persen untuk kebutuhan Lebaran (makanan, pakaian, hampers, mudik).
20–30 persen untuk tabungan atau dana darurat.
Baca Juga:UMK Rp5,2 Juta, Ada 7000 Pabrik, Kabupaten Bekasi Sepi Pendatang Pasca Lebaran, Kok Bisa?
10–20 persen untuk zakat, infak, dan sedekah.
Sisanya untuk kebutuhan rutin atau cicilan jika ada.
Persentase ini fleksibel, namun prinsipnya jelas: THR bukan semata dana konsumsi, melainkan momentum memperkuat kondisi finansial.
2. Dahulukan Kewajiban, Baru Gaya Hidup
Lebaran identik dengan baju baru, kue kering melimpah, dan dekorasi rumah. Sah-sah saja, tetapi pastikan kewajiban terpenuhi lebih dulu.
Bayar zakat fitrah dan zakat mal (jika memenuhi nisab), lunasi utang jangka pendek, dan siapkan dana kebutuhan pokok. Setelah itu, barulah alokasikan untuk hal-hal yang sifatnya sekunder.
Ingat, kebahagiaan Lebaran bukan ditentukan oleh merek pakaian, melainkan ketenangan batin.
3. Buat Daftar Belanja, Bukan Belanja Tanpa Arah
Belanja tanpa daftar sering berujung pada pemborosan. Buat rincian kebutuhan secara detail: berapa toples kue yang dibutuhkan, siapa saja yang akan diberi hampers, dan berapa estimasi anggaran mudik.
Dengan daftar yang jelas, pengeluaran lebih terkontrol. Hindari membeli karena “takut kehabisan” atau sekadar ikut tren.
4. Sisihkan untuk Masa Setelah Lebaran
Banyak orang lupa bahwa kehidupan tetap berjalan setelah hari raya usai. Biaya sekolah anak, tagihan bulanan, hingga kebutuhan mendadak tetap menanti.
Karena itu, menyisihkan sebagian THR untuk tabungan atau investasi jangka pendek adalah langkah bijak.
Minimal, simpan dana yang cukup untuk menutup kebutuhan satu bulan ke depan.
5. Gunakan untuk Hal Produktif
Jika kondisi keuangan relatif stabil, pertimbangkan memanfaatkan sebagian THR untuk hal produktif.
Misalnya, menambah modal usaha kecil, membeli aset bernilai, atau mengikuti pelatihan peningkatan keterampilan.
Dengan begitu, THR tidak habis sebagai konsumsi sesaat, melainkan menjadi pengungkit ekonomi pribadi.
6. Kendalikan Tekanan Sosial
Tak jarang, tekanan sosial menjadi pemicu pemborosan. Merasa harus memberi amplop besar, menyajikan hidangan berlebihan, atau tampil paling mewah.
Padahal, esensi Idul Fitri adalah kembali pada kesederhanaan dan saling memaafkan. Sesuaikan pengeluaran dengan kemampuan, bukan gengsi.
7. Libatkan Keluarga dalam Perencanaan
Diskusikan penggunaan THR bersama pasangan atau anggota keluarga. Transparansi anggaran mencegah salah paham dan mendorong keputusan yang lebih rasional.
Kebersamaan dalam mengatur keuangan justru bisa mempererat hubungan.
Lebaran adalah momentum spiritual dan sosial. THR hanyalah alat, bukan tujuan.
Dengan perencanaan yang matang dan pengendalian diri, hari raya bisa dirayakan dengan penuh suka cita tanpa meninggalkan beban finansial.
Karena sejatinya, kebahagiaan Idul Fitri lahir dari hati yang ringan—bukan dompet yang terkuras.