- Jusuf Kalla menyampaikan kuliah umum tentang pentingnya peran masyarakat sipil dalam mengatasi konflik kemanusiaan di Universitas Indonesia, Selasa 2026.
- Penyelesaian masalah kemanusiaan harus dilakukan dengan menuntaskan akar penyebab konflik dan bencana daripada hanya menangani dampak pengungsi.
- Kepercayaan publik menjadi modal utama bagi masyarakat sipil dan organisasi seperti PMI untuk menggerakkan relawan serta bantuan.
SuaraBekaci.id - Wakil Presiden ke-10 dan 12 Jusuf Kalla menegaskan pentingnya peran masyarakat sipil (civil society) dalam menangani persoalan kemanusiaan, baik akibat konflik maupun bencana alam.
JK menekankan pentingnya kepercayaan saat terlibat dalam kegiatan kemanusiaan.
Hal tersebut disampaikannya dalam kuliah umum yang berlangsung di Auditorium Juwono Sudarsono, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia, Selasa (07/04/2026).
Kuliah umum tersebut dihadiri oleh mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional FISIP, civitas akademika UI, dan para praktisi masyarakat sipil yang terlibat dalam kegiatan kemanusiaan di tingkat nasional maupun global
Lebih lanjut Kalla menjelaskan bahwa tantangan utama kegiatan kemanusiaan saat ini berasal dari dua sumber, yakni konflik antarmanusia dan konflik dengan alam.
“Konflik terjadi di berbagai belahan dunia seperti Ukraina, Timur Tengah, hingga di dalam negeri seperti Papua. Selain itu, bencana alam seperti banjir, gempa, dan tsunami juga menimbulkan dampak kemanusiaan yang besar,” ujarnya.
Kalla menekankan bahwa konflik kemanusiaan umumnya dipicu oleh faktor ideologi, perebutan wilayah, kepentingan politik, hingga sumber daya alam.
Ia mencontohkan berbagai konflik global maupun nasional yang berdampak luas terhadap masyarakat sipil.
Menurutnya, penyelesaian masalah kemanusiaan tidak cukup hanya dengan menangani pengungsi, tetapi harus menyelesaikan akar konflik itu sendiri.
Baca Juga: JK: Prajurit TNI Gugur di Lebanon Pahlawan Perdamaian Dunia
“Kalau konfliknya selesai, maka masalah kemanusiaannya juga ikut selesai. Itu lebih cepat dan lebih efektif dibanding hanya mengurus dampaknya,” katanya.
Ia juga menyinggung pengalamannya saat menangani berbagai konflik di Indonesia pada awal 2000-an, seperti di Poso, Ambon, dan Aceh, yang saat itu menyebabkan sekitar 1,5 juta orang mengungsi.
Dalam kesempatan tersebut, Kalla turut menyoroti pentingnya gotong royong dalam penanganan bencana.
Ia menyebut keterlibatan masyarakat luas menjadi kunci keberhasilan berbagai aksi kemanusiaan, termasuk saat bencana tsunami Aceh dan pandemi COVID-19.
Sebagai Ketua Palang Merah Indonesia (PMI), Kalla menjelaskan bahwa kepercayaan publik (trust) menjadi modal utama dalam menggerakkan bantuan.
Dengan adanya kepercayaan, masyarakat bisa lebih antusias terlibat menjadi relawan dan bahkan ikut mendanai kegiatan kemanusiaan tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 Shio Paling Beruntung 29 Oktober 2026: Bisnis Lancar dan Finansial Aman
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Polresta Bogor Minta Maaf soal Intimidasi Jurnalis, Anggota Polisi Dijatuhi Sanksi
-
Seret Nama Pejabat ATR/BPN hingga Politisi, Ini Fakta Terbaru Kasus Korupsi Summarecon
-
Bikin Polusi Udara Parah, Pabrik Arang di Bekasi Disegel
-
Waketum MUI Jadi Saksi Meringankan Dugaan Korupsi Haji Eks Menag Yaqut Cholil
-
26 Sengketa Pilkades Bekasi, Dugaan Ijazah Palsu Mendominasi