- PBB menyatakan kengerian atas pembunuhan warga sipil Palestina yang terus berlanjut di Gaza pasca gencatan senjata 11 Oktober 2025.
- Sejak gencatan senjata, 477 warga Palestina tewas akibat serangan Israel, termasuk 216 orang sejak 21 Januari 2026.
- PBB menekankan perlunya dukungan dan tekanan internasional untuk menghentikan pertumpahan darah serta memajukan pemulihan berbasis hak.
SuaraBekaci.id - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat (23/1) menyatakan kengerian pembunuhan warga sipil Palestina yang hingga kini masih terjadi di Jalur Gaza setelah gencatan senjata.
Melalui siaran pers, Kantor HAM PBB di Wilayah Palestina yang Diduduki (OPT) menyampaikan kengerian atas pembunuhan warga sipil yang terus berlanjut dalam serangan Israel di Gaza.
Termasuk setidikitnya 11 warga Palestina yang tewas dalam serangan 21 Januari, di tengah pola kekerasan pasca-gencatan senjata yang lebih luas dan dampak berkelanjutan dua tahun kehancuran".
Badan PBB itu menekankan bahwa "kini waktunya bagi komunitas internasional untuk meningkatkan dukungan dan tekanan guna menghentikan pertumpahan darah dan memajukan pendekatan berbasis hak untuk pemulihan dan rekonstruksi".
"Krisis di Gaza masih belum berakhir. Setiap hari orang-orang tewas, baik dalam serangan Israel maupun akibat pembatasan akses masuk bantuan kemanusiaan, khususnya pengungsian, yang menyebabkan kematian akibat cuaca dingin dan tertimpa bangunan yang runtuh. Jurnalis Palestina terbunuh, dan jurnalis asing masih dilarang masuk Gaza," kata Ajith Sunghay, Kepala HAM PBB di OPT.
Menurutnya, tren yang telah didokumentasikan di wilayah pendudukan sejak diberlakukan gencatan senjata 11 Oktober 2025 mencakup pembunuhan warga sipil dalam serangan udara Israel, penembakan artileri, dan tembakan senjata di kelima provinsi Gaza, termasuk insiden yang jauh dari dan di sekitar "garis kuning".
Secara keseluruhan, 477 warga Palestina yang mayoritas tampaknya warga sipil, dilaporkan tewas dalam serangan Israel di Gaza sejak gencatan senjata, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.
Disebutkan bahwa sejak gencatan senjata hingga 21 Januari 2026, sedikitnya 216 warga Palestina tewas, termasuk setidaknya 46 anak dan 28 perempuan, dalam serangan Israel yang jauh dari "garis kuning", terutama di pengungsian internal dan bangunan tempat tinggal.
Ini mencakup 126 serangan yang dilaporkan oleh pesawat tanpa awak (UAV) Israel di seluruh Gaza, yang mengakibatkan sedikitnya 87 warga Palestina, termasuk 12 anak dan tujuh perempuan, tewas.
Baca Juga: Begini Respons China Soal Pembentukan Dewan Perdamaian Gaza
Lebih lanjut, pihaknya menyebutkan bahwa pada periode yang sama, sedikitnya 167 warga Palestina, termasuk 26 anak dan 17 perempuan, dilaporkan tewas di sekitar "garis kuning".
"Operasi militer Israel yang kerap terjadi di wilayah barat garis penarikan pasukan juga telah membuat warga sipil mengungsi dan menghancurkan bangunan tempat tinggal di daerah tersebut. Lebih banyak warga sipil yang tewas akibat kondisi kemanusiaan akibat ulah manusia yang mengerikan, termasuk sedikitnya sembilan anak yang meninggal akibat hipotermia sejak gencatan senjata," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Alur Lengkap Kasus Dugaan Korupsi Dana Hibah Pariwisata Sleman yang Libatkan Eks Bupati Sri Purnomo
- 36 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 22 Januari: Klaim TOTY 115-117, Voucher, dan Gems
- Lula Lahfah Pacar Reza Arap Meninggal Dunia
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- Menanti Kabar, Ini Sosok Dua Istri Pilot Andy Dahananto Korban Kecelakaan ATR 42-500
Pilihan
-
ESDM: Harga Timah Dunia Melejit ke US$ 51.000 Gara-Gara Keran Selundupan Ditutup
-
300 Perusahaan Batu Bara Belum Kantongi Izin RKAB 2026
-
Harga Emas Bisa Tembus Rp168 Juta
-
Fit and Proper Test BI: Solikin M Juhro Ungkap Alasan Kredit Loyo Meski Purbaya Banjiri Likuiditas
-
Dompet Kelas Menengah Makin Memprihatinkan, Mengapa Kondisi Ekonomi Tak Seindah yang Diucapkan?