Tak ada literasi sejarah yang bisa memastikan kapan budaya tarkam di sepakbola nasional pertama kali diadakan. Namun jika kita berkaca era 1950 hingga 1960, kita bisa sedikit menemukan fakta bahwa turnamen Tarkam di era tersebut menjamur.
Tidak hanya kompetisi antar kampung cabang sepak bola namun juga cabang olahraga lain. Hal ini tak lepas dari hasil Musyawarah Olahraga Nasional 1961. Dari hasil Munas Olahraga itu, sejumlah kegiatan olahraga wajib dijalankan.
Dari hasil Munas ini muncul Komando Gerakan Olahraga yang dipimpin langsung oleh Soekarno. Di bawah Soekarno ada Komite Olahraga (KO) dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI).
Mengutip dari hasil Munas Olahraga 1961, tujuan kegiatan olahraga diadakan di setiap daerah dari tingkat RT ialah mempertinggi mutu keolahragaan dalam segala bidang.
Dari hasil Munas itu juga disebutkan bahwa pemerintah lewat Komando Gerakan Olahraga meminta pemerintah daerah di tingkat I, Kabupaten dan Kotapraja untuk membuat kegiatan cabang olahraga yang mempunyai bibit-bibit istimewa.
"Komando Gerakan Olahraga meminta pemerintah daerah di tingkat I hingga Kotapraja untuk menggelar kegiatan olahraga yang memberi harapan baik seperti kegiatan olahraga lari jarak jauh unutk Nusa Tenggara Barat dan Timur, renang jarak jauh unutk Sumatera Utara dan Jawa Barat, hockey untuk Sumatera Utara dan lari jarak pendek untuk Sulawesi Utara, Tengah dan Maluku,"
Dari fakta ini maka tak heran jika olahraga Indonesia di era Soekarno memiliki segudang atlet berprestasi. Konsep tarkam ini juga yang kemudian membuat sepak bola Indonesia memiliki catatan prestasi mumpuni di era 60-an.
Konsep tarkam memang bisa menjadi alternatif untuk menjadi sarana pencarian bibit muda Indonesia, utamnya di bidang sepak bola.
Konsep tarkam yang merupakan budaya grassroot bisa membongkar kekeliruan pemberdayaan sepak bola saat ini yang selalu dari bottom up ke bottom down dan diubah menjadi bottom down ke bottom up.
Baca Juga: Biografi Soekarno, Pendiri Bangsa Indonesia Lahir Hari Ini 6 Juni
Tarkam dengan segala positif dan negatifnya akan memecut para pemain muda, tidak hanya skill namun juga mental.
Keterbatasan tarkam membuat si pemain mampu membuat sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin. Ini bahasa mental yang belum tentu dimiliki oleh para pemain muda jebolan akademi dan SSB dengan pelbagai fasilitas mewah dan lengkap.
Berita Terkait
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Modal Pistol Korek Api, Mahasiswa di Bekasi Nekat Rampok Minimarket Rp12 Juta
-
Geger Pelecehan Seksual Terhadap Anjing di Pet Shop Penjaringan
-
Kekeringan Melanda Bekasi: Ini Cara Warga Dapatkan Bantuan Air Bersih Gratis
-
Israel Bunuh Hampir 1.000 Warga Palestina Sejak Oktober
-
Lautan Manusia di Kota Bekasi Rayakan Tahun Baru Islam