SuaraBekaci.id - Muaragembong, kecamatan paling ujung di Kabupaten Bekasi. Daerah ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara dan Teluk Jakarta di Barat. Mayoritas pekerjaan masyarakat di Muaragembong tentu saja nelayan.
Hidup di daerah pesisir membuat masyarakat di sana harus kuat dan tahan banting, begitu juga dengan anak-anak. Sejak kecil, anak-anak di Muaragembong sudah dikenalkan pada luasnya lautan dan kehidupan luat yang menjadi mata pencarian orang tuanya.
Anak-anak di Muaragembong ini sejak kecil harus bisa beradaptasi dengan kondisi di sekitar mereka, baik saat terjadi laut pasang dan bertahan hidup di air.
Bahkan untuk melakukan aktivitas keseharian, anak-anak di Muaragembong sudah terbiasa mengayun sampan. Seperti di Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muaragembong.
Budaya bepergian dan menghabiskan waktu di atas perahu masih sangat melekat. Sebagian besar warga, hidup diatas perahu setiap harinya. Kebiasaan itupun, terus melekat bahkan pada anak- anak.
Cerita tentang masa kecil anak pesisir Muaragembong dituturkan oleh Sekretaris Desa Pantai Bahagia, Akhmad Qurtubi.
Baginya, menghabiskan waktu di air tidak akan bisa dilepaskan. Bahkan, itu sudah menjadi tradisi turun temurun di desanya. Bukan tanpa sebab, karena kampung halaman Qurtubi dipisahkan Sungai Citarum yang membelah Desa Pantai Bahagia menjadi dua sisi.
"Perahu dipilih oleh warga sebagai alat transportasi alternatif karena jalur transportasi darat yang tidak begitu baik. Begitupun, kehidupan anak-anak Muaragembong setelah belajar pada siang hari, mereka pasti berada di atas perahu," jelasnya.
Qurtubi menceritakan, sepulang sekolah, anak pesisir di desanya selalu berada di perahu, bersama orang tua, dan belajar berburu ikan.
Baca Juga: Rocky Gerung Duga Presiden Jokowi Tak Bisa Tidur karena Pikirkan Pelaporan kepada Kaesang dan Gibran
"Karena anak-anak di sini sudah dikenalkan pada bekerja. Tepatnya, mereka membantu orang-orang tua bekerja," tuturnya.
Namun Qurtubi mempertegas bahwa keterampilan yang dipastikan harus dikuasai anak pesisir yakni menjala ikan hingga menangkap kepiting dengan alat tangkap bubu.
"Hasil tangkapannya dijual, uangnya untuk tambahan jajan. Bahkan bisa untuk bantu menambah uang belanja orang tua mereka," jelasnya.
Secara umum, kata dia, anak Pesisir Muaragembong sudah sejak dini dilatih untuk terbiasa dalam kesederhanaan. Dari pulang sekolah, hingga matahari terbenam. Bahkan, ada juga yang sampai larut malam.
Namun yang terpenting, kata dia, mereka sudah diajarkan untuk mencintai pekerjaan orang tua mereka. Sebagai nelayan dan bergantung pada penghasilan di lautan.
"Walau kehidupan mereka semakin sulit dirasa, karena kerusakan, karena abrasi dan selalu mendapatkan kiriman banjir Sungai Citarum pada tiap tahunnya," tutupnya. [humas pemkab bekasi]
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- Pasca Penonaktifan, 3.000 Warga Kota Yogyakarta Geruduk MPP untuk Reaktivasi PBI JK
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
- 7 HP Murah Terbaru 2026 Buat Gaming: Skor AnTuTu Tinggi, Mulai Rp1 Jutaan!
- 5 Sepeda Lipat Kalcer Termurah, Model Stylish Harga Terjangkau
Pilihan
-
Kembali Diperiksa 2,5 Jam, Jokowi Dicecar 10 Pertanyaan Soal Kuliah dan Skripsi
-
Geger! Pemain Timnas Indonesia Dituding Lakukan Kekerasan, Korban Dibanting hingga Dicekik
-
Polisi Jamin Mahasiswi Penabrak Jambret di Jogja Bebas Pidana, Laporan Pelaku Tak Akan Diterima
-
Komisi III DPR Tolak Hukuman Mati Ayah di Pariaman yang Bunuh Pelaku Kekerasan Seksual Anaknya
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
Terkini
-
Cara Mengelola THR agar Lebaran Tidak Berujung Pusing
-
BRI Dukung Asta Cita dan Program 3 Juta Rumah, Target 60 Ribu Unit
-
98 Mal Jakarta Gelar Promo Spesial di Tahun Baru Imlek
-
Kabel Lampu Jalan Jadi Sasaran Komplotan Pencuri di Bekasi
-
Rahasia Pakar Kuliner: Kenapa Makanan Imlek Punya Simbol Damai dan Kekayaan?