Galih Prasetyo
Senin, 07 September 2026 | 19:12 WIB
Seorang guru memberikan materi pembelajaran jarak jauh (PJJ) di SDN Gunung 05 Mexico, Jalan Hang Lekir V No 53, Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis (3/2/2022). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Baca 10 detik
  • Dinas Pendidikan Kota Bekasi memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh bagi sekolah pada 8-9 September 2026.
  • Kebijakan tersebut diambil guna mengantisipasi risiko kesehatan warga sekolah akibat paparan abu vulkanik erupsi.
  • BMKG menargetkan penyelesaian masalah debu vulkanik Gunung Anak Krakatau dalam satu hingga dua hari.

“Dengan adanya dua metode ini, harapannya dalam 1-2 hari ke depan, ini soal debu vulkanik Gunung Anak Krakatau bisa kita selesaikan dengan catatan tidak ada letusan-letusan baru yang menyemprotkan,” kata Seto.

Ia menjelaskan metode pertama dilakukan ketika belum terdapat awan. Pesawat akan menyemprotkan bahan ke atmosfer untuk membantu menurunkan partikel debu vulkanik.

“Kalau tidak ada awan, pesawat ini akan menyemprot. Dia membuat bahan spray di atmosfer atau udara, supaya debu vulkaniknya menurun,” ujar dia.

Bahan yang disemprotkan berupa air yang dicampur surfaktan. Menurut Seto, surfaktan berfungsi sebagai bahan pengikat debu sehingga partikel vulkanik dapat lebih cepat jatuh.

“Karena yang kita semprotkan ini adalah air plus surfaktan. Jadi adalah wadah tertentu yang mampu mengikat debu, sehingga dia akan jatuh,” kata dia.

Sementara itu, apabila awan telah tumbuh, metode modifikasi cuaca akan menggunakan bahan semai awan untuk mengaktifkan awan dan memicu hujan.

“Nah, nanti kalau sudah ada awan tumbuh, bahannya kita ganti menjadi air, tapi kita campur dengan bahan semai. Dia akan mengaktivasi awan jadi menjatuh,” ujar dia.

Load More