Muhammad Yunus
Rabu, 11 Februari 2026 | 13:01 WIB
Tunjangan Hari Raya (THR) selalu jadi momen yang ditunggu. Nominalnya kadang setara satu kali gaji, bahkan lebih. Sehingga butuh pengelolaan yang baik agar tepat sasaran [Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Segera pisahkan dana THR berdasarkan alokasi kebutuhan, termasuk alokasi untuk tabungan atau investasi jangka panjang.
  • Prioritaskan pembayaran kewajiban finansial seperti zakat dan pelunasan utang sebelum mengalokasikan untuk gaya hidup sekunder.
  • Buat daftar belanja terperinci dan kendalikan tekanan sosial untuk menghindari pengeluaran tanpa arah dan pemborosan.

SuaraBekaci.id - Tunjangan Hari Raya (THR) selalu jadi momen yang ditunggu. Nominalnya kadang setara satu kali gaji, bahkan lebih.

Namun, tak sedikit yang justru kehabisan dana sebelum bulan berganti.

Euforia belanja, tekanan sosial, hingga keinginan tampil maksimal saat Lebaran kerap membuat THR menguap tanpa jejak.

Agar Idul Fitri tetap dirayakan dengan hati lapang—bukan kepala pening—ada strategi sederhana namun efektif dalam mengelola dan membelanjakan THR.

1. Pisahkan Dulu, Jangan Langsung Dibelanjakan

Begitu THR cair, tahan diri. Jangan langsung tergoda diskon atau flash sale. Langkah pertama adalah memisahkan dana berdasarkan pos kebutuhan.

Skema yang bisa digunakan misalnya:

30–40 persen untuk kebutuhan Lebaran (makanan, pakaian, hampers, mudik).

20–30 persen untuk tabungan atau dana darurat.

Baca Juga: BRI Jamin Keandalan E-Channel demi Transaksi Lancar saat Lebaran

10–20 persen untuk zakat, infak, dan sedekah.

Sisanya untuk kebutuhan rutin atau cicilan jika ada.

Persentase ini fleksibel, namun prinsipnya jelas: THR bukan semata dana konsumsi, melainkan momentum memperkuat kondisi finansial.

2. Dahulukan Kewajiban, Baru Gaya Hidup

Lebaran identik dengan baju baru, kue kering melimpah, dan dekorasi rumah. Sah-sah saja, tetapi pastikan kewajiban terpenuhi lebih dulu.

Bayar zakat fitrah dan zakat mal (jika memenuhi nisab), lunasi utang jangka pendek, dan siapkan dana kebutuhan pokok. Setelah itu, barulah alokasikan untuk hal-hal yang sifatnya sekunder.

Load More