SuaraBekaci.id - Warga Teluk Pucung, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi dihebohkan dengan penemuman benda bersejarah. Menurut informasi warga, batu tersebut sudah ada jauh sebelum warga setempat mendirikan rumah.
Dari penampakan benda tersebut, sekilas mirip dengan batu yang biasa dipergunakan masyarakat untuk memproduksi gula di era Kesultanan Banten pada abad ke-17.
Pada era tersebut, produksi gula dikelola oleh orang-orang Cina di kawasan Pecinan, Kelapa Dua (sekitar 9 kilometer dari Banten Lama). Hasil produksi gula akan dijual ke Batavia untuk kemudian diekspor ke Cina dan Jepang.
Untuk dapat menghasilkan gula dan pohon tebu, masyarakat pada abad ke-17 menggunakan batu penggilingan yang ditemukan di Teluk Pucung, Bekasi.
Merujuk pada laman resmi Kemdikbud seperti dikutip Suara Bekaci, Senin (27/6/2022), batu penggilingan biasanya dibuat dari batu granit.
Batuan granit biasanya batuan beku yang memiliki warna cerah, butirannya kasar sehingga dapat dilihat dengan jelas dan mempunyai kepadatan yang keras sehingga mampu menahan beban yang berat dan tahan terhadap pelapukan.
Dari benda yang ditemukan di Teluk Pucung Bekasi memang mirip dengan batu penggilingan tebu masyarakat Banten di abad ke-17.
Batu penggilingan pada era itu, memiliki gerigi yang dipahatkan pada salah satu bagian ujung atau tepian mengelilingi lingkaran batu.
Batu penggilingan tebu yang ditemukan di Banten sendiri ditemukan di wilayah kawasan Banten Lama tepatnya di Kampung Pamarican dalam keadaan sudah tidak berfungsi dan ada beberapa batu yang sudah dalam keadaan pecah.
Batu-batu tersebut terdiri dari berbagai macam bentuk dan ukuran ada yang berbentuk silindris, bulat dan balok.
Batu penggilingan tebu di Kesultanan Banten
Keberadaan batu ini diduga erat berkaitan dengan teknologi pembuatan gula berbahan baku tebu pada masa Kesultanan Banten, sekitar abad ke-17 hingga abad ke-18.
Dari hasil penilitian terungkap bahwa adanya kemiripan dari bentuknya yang spesifik yakni bulat silinder, mempunyai gigi (gear), mempunyai lubang-lubang, dan memiliki batu pasangan dengan bentuk serupa, maka sepasang batu silinder tersebut dapat digerakkan atau berputar.
Batu-batu tersebut setelah direkonstruksi maka dapat diketahui kegunaannya yakni batu-batu tersebut digunakan untuk menggiling atau memeras tebu guna di ambil airnya sebagai bahan baku pembuatan gula.
Atas asumsi tersebut dengan demikian dapat dipastikan bahwa batu silindris yang menjadi koleksi Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama (MSKBL), dulunya adalah alat sederhana untuk memeras tebu guna memperoleh nira atau cairan tebu sampai menjadi gula.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Dapat Warisan PR Karhutla, Menko Polkam Dudung Siap Terjun Langsung ke Lokasi
- 4 Rekomendasi Pelembap Viva untuk Kulit Kering, Bantu Perbaiki Skin Barrier
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
- 8 Sneakers Lokal Paling Nyaman dan Modis untuk Gaya Harian, Mulai Rp200 Ribuan
Pilihan
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
-
Nama Puan Disebut Jadi Pengganti Gibran, Begini Respons Ketua DPR
-
Disaksikan Andi Gani dan Perwakilan Buruh, DPR Resmi Sahkan RUU Perlindungan Ketenagakerjaan Jadi UU
Terkini
-
Menteri ATR/BPN Nusron Wahid Mangkir dari Panggilan KPK, Ada Apa?
-
Aktif Jemput Bola Transaksi Warga, Kiprah BRILink Agen Ria Irawan Topang Roda Ekonomi
-
30 Perusahaan Buka Ribuan Lowongan Kerja di Subang, Cek Syaratnya!
-
Aksi Ekstrem Jambret Pakai Kawasaki Ninja, Rampas HP Pakai Dua Tangan
-
BRI Dorong Penyuluh Antikorupsi Jadi Teladan Integritas di Tempat Kerja