Ada yang menganggap kehadiran etnis Tionghoa ini terlalu ekslusif, namun faktanya di Bekasi mereka sangat berbaur dan menambah kekayaan adat dan budaya di Kota Patriot.
Menurut pengamat budaya Tionghoa, C. Dewi Hartati saat melakukan video zoom dengan Suara Bekaci, Jumat (28/1) menegaskan bahwa sebenarnya bagi orang Tionghoa di Bekasi, mereka lebih suka dianggap sebagai orang Bekasi.
"Mereka itu lebih kental, ya orangnya bilang orang Bekasi ketimbang disebut orang Tionghoa Bekasi," kata Dewi Hartati.
"Soal akulturasi itu sangat besar sekali, kita bisa melihat mereka sangat menyukai musik Gambang keromong. Kita lihat kalau ada upacara di klenteng, yang upacara-upacara besar seperti Imlek, ada gambang keromong, kalau ada pesta ulang tahun dewa atau sejit, itu selalu ada gambang keromong yang juga ditunggu masyarakat Bekasi," papar Dewi.
"Terus satu lagi misalkan contohnya upacara kesempurnaan sejit, kalau di Klenteng Hok Lay Kiong, dewa utamanya itu Dewa Xuantian Shangdi, dia dirayakan tanggal 3 bulan 3 setelah imlek. Di tanggal 9 bulan 9 ada hari kesempurnaan ada juga perayaannya dan biasanya nanggep wayang kulit,"
"Biasanya di depan klenteng (Hok Lay Kiong) itu biasanya dibikin tenda, tenda itu buat semalam suntuk untuk mengadakan pagelaran wayang kulit," papar Dewi.
Dari hal inilah bisa dilihat bahwa sebenarnya keberadaan orang Tionghoa di Bekasi lebih menunjukkan diri sebagai orang Bekasi.
"Hal yang paling bisa dilihat dari bahasanya. Lihat saja bahasanya, itu sangat Bekasi sekali," tambah Dewi.
Soal bahasa ini juga disepakati oleh budayawan Bekasi, Maja Yusirwan. Senada dengan Dewi, pria yang akrab disapa Aki Maja itu merasa kehadiran etnis Tionghoa di Bekasi memperkaya adat dan budaya.
Baca Juga: Ridwan Kamil Sebut Ada 492 Orang Probable Omicron yang Tersebar di Bogor, Depok dan Bekasi
"Sejak lama Etnis Tionghoa mendiami Bekasi dan bersosislisasi, hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa bangunan etnis Tionghoa seperti, Klenteng Hok Lay Kiong, Wihara di pondok gede, Gedung Papak dan beberapa seni budaya seperti barongsay hingga perayaan Cap Gomeh," kata Aki Maja.
"Akulturisasi juga terdapat pada beberapa instrumen musik seperti, tehyan, perkusi topeng, warna bangunan, kostum pengantin, kue-kue, hingga bahasa pergaulan seperti jigoh dan gocap,"
"Yang paling penting bahwa akulturasi itu justru memperkaya adat dan budaya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Promo THR Alfamart Maret 2026: Sirup Marjan dan Biskuit Lebaran Diskon Gila-gilaan, Mulai 6 Ribuan
- 5 Mobil Bekas untuk Jangka Panjang: Awet, Irit, Pajak Ringan, dan Ramah Kantong
- Promo Kue Kaleng Lebaran Indomaret Alfamart Terbaru, Harga Serba Rp15 Ribuan
Pilihan
-
Teror di Rumah Wali Kota New York Zohran Mamdani: Dua Remaja Lempar Bom Rakitan
-
Trump Bilang Perang Segera Selesai, Iran: Ngaku Saja, Amunisi Kalian Sudah Mau Habis
-
Selain Bupati, KPK Juga Gelandang Wabup Rejang Lebong ke Jakarta Usai OTT
-
Patuhi Perintah Trump, Australia Kasih Suaka ke 5 Pemain Timnas Putri Iran
-
Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
Terkini
-
Profil Mojtaba Khamenei Pemimpin Tertinggi Baru Iran, Disebut Trump Tidak Akan Berumur Panjang
-
Kawasan Jababeka Cikarang Jadi Kota Wisata Industri Pertama di Indonesia
-
Bukan Jatuhkan Pemerintah, Ini Tujuan Diskusi Tokoh Lintas Generasi dengan Jusuf Kalla
-
Viral! Aksi Lima Mobil Zig-Zag di Tol Becakayu, Polisi Cuma Kasih Teguran Lisan?
-
Teheran Minta Rusia Gunakan Pengaruh Global untuk Dukung Hak Sah Iran