Analisis Menohok Profesor Belanda Soal Tragedi Kanjuruhan: Sikap Represif Aparat dan Suara Akar Rumput

"Apa yang saya lihat adalah bentrokan antara polisi sebagai perwakilan pemerintah dengan kelas bawah yang merasa tidak didengarkan,"

Galih Prasetyo
Minggu, 09 Oktober 2022 | 16:32 WIB
Analisis Menohok Profesor Belanda Soal Tragedi Kanjuruhan: Sikap Represif Aparat dan Suara Akar Rumput
Sejumlah coretan berisi kekecewaan menghiasi dinding Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Selasa (4/10/2022). Mereka minta agar kasus Tragedi Kanjuruhan yang menelan lebih dari 100 orang meninggal dunia diusut tuntas. [Suara.com/Dimas Angga]

"Mereka tidak merasa didengar. Mereka merasa ditinggalkan oleh negara. Selama pertandingan, mereka terus bersama dan bergandengan dan merasa sangat kuat,"

Menurut Colombijn, ini bukan pertama kalinya muncul rasa tidak puas terhadap institusi kepolisian. Di beberapa kasus kata Colombijn, petugas tunjukkan sikap arogan yang membuat rasa kesal para suporter.

"Pada banyak pertandingan, petugas berdiri dalam jumlah besar dengan tongkat, siap untuk memukul,"

Seorang warga melihat mobil satuan K-9 milik Polres Malang yang hancur akibat kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Minggu (2/10/2022). [ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/foc]
Seorang warga melihat mobil satuan K-9 milik Polres Malang yang hancur akibat kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Minggu (2/10/2022). [ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/foc]

Maka menurut Colombijn, bukan suatu kebetulan jika tidak ada mobil warga umum melainkan hanya mobil polisi yang dibalik dan dibakar massa.

Baca Juga:Sosok-Sosok di Balik 'Selamatnya' Indonesia dari Sanksi FIFA

Tembakan gas air mata yang diarahkan ke tribun penonton di Stadion Kanjuruhan disebut sebagai salah satu penyebab utama 131 Aremania meninggal dunia.

Colombijn kemudian mengkritisi pernyataan soal mengapa gas air mata itu ditembakan yakni adanya suporter yang turun ke lapangan. Bagi Colombijn, apa yang disampaikan tersebut hanya menimbulkan agresi lebih besar di kalangan masyarakat.

"Mereka benar-benar berkata, 'jika orang-orang itu tidak mendengarkan kita, tidak mengikuti aturan, maka kita harus campur tangan'. Siapapun yang berbicara seperti itu kepada warganya hanya timbulkan provokasi,"

"Setelah itu polisi kemudian mengkonfirmasi reputasinya dengan menabrak orang," jelas Colombijn.

Pernyataan dari profesor asal Belanda ini kemudian diamini oleh Zen RS, jurnalis Narasi. Zen mengatakan bahwa kekerasan sudah mengakar di masyarakat Indonesia.

Baca Juga:TGIPF: Stadion Kanjuruhan Malang Tidak Layak Untuk Pertandingan Berisiko Tinggi

"Jika Anda menyelidiki sedikit lebih dalam ke sejarah kami, Anda akan melihat betapa banyak kekerasan yang terjadi di masyarakat," ucapnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini