facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Faktor Genetik Bisa Jadi Alasan bagi Seorang Remaja untuk Mulai Merokok

Ari Syahril Ramadhan Sabtu, 28 Mei 2022 | 16:34 WIB

Faktor Genetik Bisa Jadi Alasan bagi Seorang Remaja untuk Mulai Merokok
ILUSTRASI - Warga berada di kawasan dilarang merokok Taman Balai Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (28/5/2021). Pemerintah Kota Bandung mengenakan denda kepada warga yang merokok di kawasan tanpa rokok. [ANTARA FOTO/NOVRIAN ARBI]

"Secara biologis memang ada juga nih yang dialami sama remaja tersebut. Jadi secara genetiknya memungkinkan seseorang lebih berisiko untuk memulai merokok," ujarnya.

SuaraBekaci.id - Faktor pertemanan menjadi salah satu alasan bagi remaja untuk mulai merokok. Namun selain karena pertemanan, masih ada beberapa faktor yang dapat mendorong remaja untuk mulai merokok.

Berawal dari mencoba, tak sedikit remaja yang terjebak menjadi pecandu rokok.

Dikutip dari Antara, inilah beberpa faktor yang dapat menyebabkan seorang anak atau remaja mulai mencoba untuk merokok.

Mengalami Cognitive Dissonance

Baca Juga: Benarkah Merokok Dapat Meredakan Stres? Begini Kata Psikolog

Bukan hanya faktor lingkungan pertemanan saja yang umumnya memang dapat membuat anak atau remaja untuk merokok. Psikolog Klinis Liza Marielly Djaprie, M.Psi, CH menjelaskan bahwa terdapat beberapa alasan lainnya yang menyebabkan seorang anak merokok, mulai dari Cognitive Dissonance hingga rasa stres.

Dia mengatakan bahwa ketika seorang anak atau remaja sering melihat lingkungannya baik teman atau keluarga merokok, hal tersebut bisa membuat seseorang menjadi memiliki proses berpikir yang kurang tepat atau disebut Cognitive Disorder.

"Kalau kita berbicara hubungan antara anak remaja dengan perilaku merokok, itu sebenarnya banyak faktor yang terlibat. Bisa karena mereka terekspos sejak dini akan perilaku merokok orang-orang sekitarnya. Sehingga mengalami yang kalau di psikologi itu namanya Cognitive Dissonance," jelas Liza dikutip dari Antara, Sabtu (28/5/2022).

Lebih lanjut, Liza menjelaskan bahwa Cognitive Disonance adalah proses berfikir yang kurang tepat. Seseorang yang mengalami hal ini biasanya memiliki proses berpikir yang salah menjadi benar dan sebaliknya.

Menurut Liza, hal tersebut dikarenakan sang anak mau pun remaja sering melihat orang-orang yang dituakan dalam keluarga seperti orang tua, kakak, dan lain sebagainya memiliki kebiasaan merokok. Hal inilah yang mengakibatkan sang anak berpikir bahwa kebiasaan merokok tidak apa-apa untuk dilakukan.

Baca Juga: Mandi di Sungai, Remaja Perempuan di Langkat Tewas Tenggelam

"Jadi proses berfikir yang kurang tepat. Yang salah jadi benar, yang benar jadi salah. Jadi bayangkan kalau anak kecil sangat terbiasa melihat orang-orang terdekatnya, apalagi figur yang dituakan merokok kan asumsinya karena ini adalah figur orang yang dituakan, biasanya anak atau remaja cenderung melihat mereka sebagai orang yang sudah pasti benar," kata Liza.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait