facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Eks Buruh PTPN IX Jalan Kaki Sambil Gotong Keranda Mayat dari Tegal ke Jakarta untuk Temui Presiden Jokowi

Ari Syahril Ramadhan Sabtu, 05 Maret 2022 | 13:31 WIB

Eks Buruh PTPN IX Jalan Kaki Sambil Gotong Keranda Mayat dari Tegal ke Jakarta untuk Temui Presiden Jokowi
Sejumlah pensiunan atau purna karya PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX Jawa Tengah, tiba di Kota Cirebon. Saat tiba di wilayah Cirebon. [Jabarnews.com]

Sedikitnya ada sekitar 535 pensiunan atau purna karya di 8 pabrik gula PTPN IX Jawa Tengah yang hak-haknya belum diselesaikan.

SuaraBekaci.id - Puluhan pensiunan atau purna karya PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX Jawa Tengah, menggelar aksi jalan kaki atau long march dari Pabrik Gula Pangkah Kabupaten Tegal Jawa Tengah menuju ke Jakarta.

Mereka berangkat dari Tegal pada rabu (2/3/2022). Dan pada hari ini, Sabtu (5/3/2022) telah riba di Kota Cirebon.

Mereka tetap tekad berjalan kaki dan menemui presiden Jokowi di Istana Negara untuk mengadukan nasib dan menuntut pembayaran hak pensiun Santunan Hari Tua (SHT) dari holding perusahaan perkebunan mereka bekerja selama ini.

Dalam aksinya, mereka sambil membentangkan poster dan menggotong keranda mayat sebagai simbol penolakan terhadap kebijakan yang dianggap merugikan mereka.

Baca Juga: Ngaku-ngaku Jadi Polisi Pakai Seragam Berpangkat Komjen, Yusuf Ditangkap Polsek Duren Sawit

Dalam tuntutannya banyak para pensiunan dan purnakarya yang selama ini gajinya belum terbayarkan. Bahkan, berdasarkan data yang ada gaji belum diberikan sejak tahun 2018 hingga sekarang. Jika ditotal seluruh pensiunan yang belum terbayarkan mencapai Rp 50 miliar lebih.

“Kami hanya menuntut hak yang seharusnya diberikan kepada para pekerja yang selama ini bertahun-tahun mengabdi,” Kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Forum Komunikasi Purnakarya Perkebunan Nusantara, HN Serta Ginting, Sabtu (05/03/2022).

Menurutnya, sedikitnya ada sekitar 535 pensiunan atau purna karya di 8 pabrik gula PTPN IX Jawa Tengah yang hak-haknya belum diselesaikan.

Masing-masing purnakarya harusnya menerima SHT berkisar dari Rp50 Juta hingga Rp 800 Juta, tergantung dari pangkat dan golongan, namun mereka sejak 2018 lalu baru menerima 30 persen saja.

“Perusahaan Holding perkebunan tersebut berdalih sedang mengalami kesulitan keuangan, sementara laba perusahaan pada tahun 2021 saja mencapai Rp 2,95 triliun,”katanya.

Baca Juga: Ketum PP Pemuda Muhammadiyah Ingin Jokowi Cukup Dua Periode: Jadilah Bapak Bangsa

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait