facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Viral Jurnalis Senior Dituding Mantan Anak Buah Lindungi Pelaku Kekerasan Seksual

Galih Prasetyo Rabu, 02 Februari 2022 | 19:18 WIB

Viral Jurnalis Senior Dituding Mantan Anak Buah Lindungi Pelaku Kekerasan Seksual
Ilustrasi korban kekerasan seksual. (Pixabay/Favor)

Seorang Jurnalis senior dituding oleh mantan anak buahnya melindungi pelaku pelecehan seksual

SuaraBekaci.id - Jurnalis senior FG dituding oleh mantan anak buahnya melindungi pelaku pelecehan seksual. Korban IW lewat akun Twitter miliknya, Rabu (2/2) membuat thread terkait pengalamanya mendapat pelecehan hingga tindakan percobaan pemerkosaan.

"2015 saya menjadi reporter di geotimes, pelecehan verbal dilakukan oleh Zahari, manager distribusi. saya masih mampu menegur secara keras kelakuannya," tulis korban. 

Tiga bulan kemudian, korban bercerita bahwa pelecehan semakin menjadi-jadi setelah ia dikirim selama 3 bulan untuk ikut ekspedisi TNI AL.

"list kata2 pelecehan yg saya terima dari pelaku: jalanmu kayak lont*, sudah berapa k**** yang masuk ke m***** di kapal? tidur yuk kita sama2 single khan? kamu pasti udah gak perawan,"

Baca Juga: AJI Jakarta dan LBH Pers Mengutuk Dugaan Tindak Kekerasan Seksual yang Dialami Reporter Perempuan

"tidak hanya itu, pelaku juga beberapa kali masuk ke ruang kerja saya dan mengunci pintu dan memaksa saya untuk having sex dengan dia, lampu dia matikan dan dia bilang mumpung sepi. yang bisa saya lakukan hanya teriak tp tidak ada yang nolong. padahal banyak orang di lantai bawah,"

Ditegaskan oleh korban, pelaku bahkan sampai mulai berani untuk memegang tubuhnya.

"pelaku juga mulai berani megang badan saya. dia suka meremas p**** saya,"

"karena tidak tahan saya cerita kelakuannya ke salah satu fotografer Geotimes. Fotografer tersebut menegur pelaku dan minta saya untuk menghindari pelaku,"

Korban pun menceritakan pengalaman pahit selanjutnya saat ia hampir diperkosa oleh pelaku.

Baca Juga: Susan Sameh Alami Pelecehan Seksual di Lokasi Syuting, Pelakunya Ada 6 Orang

"sampai ada satu momen saya harus menyerahkan sendiri kuitansi rumah sakit untuk direimburse. awalnya saya nitip ke teman, tp pelaku minta saya untuk menyerahkan sendiri.,"

"saat saya datang ke ruangannya suasana kantor sedang ramai. di ruangannya ada 1 orang yg tidak saya kenal tp orang itu pergi," tambah IW.

"kuitansi saya ditolak alasannya itu bukan tugas pelaku, saya sempat nanya "trus reimburse kemana?" pelaku jawab tidak tau,"

"lalu saya ditarik dan dia mencoba melakukan perkosaan di ruangannya siang hari,"

"saya berhasil lari dan minta tolong ke teman2 yang ada diruang redaksi dan pelaku berhasil mengejar saya dan dia menjambak rambut saya dan kepala saya dibenturkan ke besi rangka ruang kaca,"

Dikatakan oleh IW bahwa saat itu banyak saksi yang melihat kejadian tersebut.

Korban pun bercerita bahwa ia sempat melaporkan hal tersebut kepada FG yang menjadi pemred.

"saya tetap menuntut adanya sanksi buat pelaku, bahkan saya juga melaporkan hal tersebut ke pemred FG. dia hanya memanggil saksi2 lalu bilang ini akan diselesaikan oleh managing editor,"

Karena tidak ada respon dan tindakan dari kantor, korban mengaku mengadukan kasusnya ke Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia.

"mba Hesty dari @AJIIndonesia memperkenalkan saya kepada salah seorang pengurus @AJI_JAKARTA kemudian menjadi pendamping saya untuk melaporkan kasus ini ke @lbhpersjakarta,"

Korban lalu melanjutkan bahwa proses mediasi kemudian gagal terjadi. Korban dalam threadnya itu mengatakan bahwa FG mengusir perwakilan dari AJI Jakarta dan LBH Pers Jakarta.

"yang terhormat Pemred saya FG mengusir pendamping saya @AJI_JAKARTA dan @lbhpersjakarta dan berteriak jika kasus ini saya lanjutkan dia akan hancurkan karir saya," tulis Irine.

Suara Bekaci mencoba menghubungi lewat direct massage Twitter dan Instagram korban terkait threadnya tersebut. Namun hingga artikel ini diturunkan, korban belum membalas.

Sanggahan dari FG

Menanggapi tuduhan dari mantan anak buahnya itu, FG menyanggah. Di akun Twitter pribadinya, ia membantah semua tuduhan korban bahwa dirinya melindungi pelaku kekerasan seksual.

"Respon cepat thd tuduhan korban: Untuk fakta yang krusial: Saya TIDAK PERNAH BERTEMU dg tim/delegasi AJI/LBH Pers, tidak pernah tahu kedatangan mereka dan tidak diberitahu. Bagaimana bisa saya mengusir? Saya bersedia diperiksa utk kesaksian krusial ini," jelas FG.

Terkait tindakan percobaan pemerkosaan, FG menjelaskan bahwa laporan tersebut memang ia terima.

"Tentang Percobaan Perkosaan: 1. Saya menerima laporan adanya percobaan perkosaan yg menimpa korban . 2. Saya mendengar kesaksian berbeda dari tertuduh. 3. Saya meminta pihak independen utk memverifikasi dua kesaksian berbeda,"

FG melanjutkan bahwa tim independen yang kemudian dipilih dari pihak korban ialah dari Yayasan Pulih.

"Tim independen diusulkan oleh pihak korban dan saya setuju: YAYASAN PULIH. Saya mengatakan siap menerima rekomendasi tim independen. Kalau PULIH mengkonfirmasi tuduhan korban, saya tidak hanya akan memecat tertuduh, tapi mendukung korban melaporkannya ke polisi,"

Namun kata FG, enam tahun kasus itu berlalu ia belum pernah mendapat rekomendasi dari Yayasan Pulih.

Terkait tuduhan korban bahwa ia akan menghancurkan karier, FG juga membantah bahkan ia bersedia di tes poligraph.

"Soal saya disebut "mengancam korban akan menghancurkan karirnya", saya bersumpah: tidak pernah mengatakan itu. Saya bersedia dites poligraph."

Terbaru, FG juga mengaku salah karena tidak menuntaskan kasus tersebut dan siap untuk tim independen memverifikasi kasus ini. "Saya akan menerima konsekuensi dr hasilnya." tulis FG.

Kesaksian Pendamping Korban

Sementara itu, pendamping korban dari Aji Jakarta, Afwan Purwanto saat dihubungi oleh Suara Bekaci menjelaskan kronologis terkait kasus ini.

"Aji Jakarta dan LBH Pers mendapat laporan dari korban, sekitar November 2015 waktu itu. Seingat korban itu November 2015, seingat pendamping juga sekitar itu. Karena kejadiannya udah lama,"

"Waktu itu, memang dapat laporan dan kami berinisiatif. Korban memang melaporkan adanya pelecehan seksual dan upaya pemerkosaan. Kami punya standing point, kami mendukung korban untuk mendapatkan keadilan dan tentunya sebagai organisasi profesi serta melindung kekebasan pers, LBH Pers, kami memutus segala bentuk kekerasan seksual," jelas Afwan.

Ditegaskan Afwan bahwa saat itu Aji Jakarta dan LBH Pers mendampingi korban untuk bertemu redaksi tempat korban bekerja.

"Jadi korban memang meminta waktu itu. Kami kemudian mendampingi korban. Kemudian LBH Pers dan AJI Jakarta kemudian mendatangi kantor Geotimes di kawasan Menteng, Jakarta Pusat,"

"Pendamping dari AJI Jakarta dan LBH Pers kemudian disuruh menunggu di ruang tamu. Korban memberi tahu ke redaksi bahwa pendamping sudah ada di kantor untuk membicarakan kasus yang menimpanya,"

"Setelah korban bertemu redaksi, korban datang menemui pendampingnya dan situ memang pendamping tidak berhasil bertemu redaksi padahal sudah datang ke situ,"

"Jadi karena korban menemui pendamping dalam kondisi shock, pendamping memutuskan untuk pulang tanpa berhasil bertemu dengan redaksi. Jadi itu yang kami sayangkan. Jadi ternyata redaksi belum bisa memberikan ruang yang nyaman khususnya bagi pekerja perempuan,"

Terkait untuk langkah ke depan, pihak pendamping mengatakan masih menunggu keputusan korban namun pada prinsipnya, AJI Jakarta dan LBH Pers mendukung dan akan terus mendampingi korban.

"Dalam kekerasan seksual, kami menghormati pengalaman traumatik dari korban. Kami tentunya menunggu kesiapan dari korban," tutup Afwan.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait