"Biasanya di depan klenteng (Hok Lay Kiong) itu biasanya dibikin tenda, tenda itu buat semalam suntuk untuk mengadakan pagelaran wayang kulit," papar Dewi.
Dari hal inilah bisa dilihat bahwa sebenarnya keberadaan orang Tionghoa di Bekasi lebih menunjukkan diri sebagai orang Bekasi.
"Hal yang paling bisa dilihat dari bahasanya. Lihat saja bahasanya, itu sangat Bekasi sekali," tambah Dewi.

Soal bahasa ini juga disepakati oleh budayawan Bekasi, Maja Yusirwan. Senada dengan Dewi, pria yang akrab disapa Aki Maja itu merasa kehadiran etnis Tionghoa di Bekasi memperkaya adat dan budaya.
Baca Juga:Ridwan Kamil Sebut Ada 492 Orang Probable Omicron yang Tersebar di Bogor, Depok dan Bekasi
"Sejak lama Etnis Tionghoa mendiami Bekasi dan bersosislisasi, hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa bangunan etnis Tionghoa seperti, Klenteng Hok Lay Kiong, Wihara di pondok gede, Gedung Papak dan beberapa seni budaya seperti barongsay hingga perayaan Cap Gomeh," kata Aki Maja.
"Akulturisasi juga terdapat pada beberapa instrumen musik seperti, tehyan, perkusi topeng, warna bangunan, kostum pengantin, kue-kue, hingga bahasa pergaulan seperti jigoh dan gocap,"
"Yang paling penting bahwa akulturasi itu justru memperkaya adat dan budaya.