facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Toleransi Beragama, Ini Makna Surat Al Kafirun Menurut Ustadz Khalid Basalamah

Lebrina Uneputty Selasa, 21 September 2021 | 20:05 WIB

Toleransi Beragama, Ini Makna Surat Al Kafirun Menurut Ustadz Khalid Basalamah
Ustaz Khalid Basalamah. [YouTube/Khalid Basalamah Official]

Surat yang terdiri dari 7 ayat ini masuk dalam golongan surat Makkiyah.

SuaraBekaci.id - Ustadz Khalid Basalamah mengajarkan tentang makna Surat Al Kafirun. Melansir dari kanal YouTube Khalid Basalamah Official (21/9/2021), Surat Al Kafirun merupakan surat ke 109 di dalam Alquran. Surat yang terdiri dari 7 ayat ini masuk dalam golongan surat Makkiyah.

Surat yang berisi tentang toleransi keimanan dan peribadahan ini diturunkan saat Nabi Muhammad SAW diiming-imingi kekayaan melimpah oleh kaum kafir.

Kekayaan tersebut diberikan bertujuan agar Nabi SAW mau menyembah berhala. Nabi Muhammad SAW pun lantas menolaknya secara halus.

Nah, sebagai umat muslim tentunya penting untuk mengetahui makna yang terkandung dalam surat Al Kafirun. Lantas, apa saja makna surat Al Kafirun? Simak penjelasannya berikut ini.

Berikut Makna Surat Al Kafirun disampaikan Ustadz Dr Khalid Basalamah Lc MA.

Seorang kafir Quraisy menegosiasi kepada Rasulullah SAW, 'Hai Muhammad, kita ingin negosiasi.' Nabi menjawab: 'Seperti apa?'," tutur Ust. Khalid Basalamah.

Ustaz Khalid Basalamah kembali menyampaikan, “Makkah kita bagi 2 saja. Sehari untukmu, sehari untuk kami."

Nabi Kembali bertanya, ‘Apa maksudmu?’”, Kaum Quraisy menjawab, "Sehari kami ikuti agamamu, kami ucapkan selamat untukmu, semua yang kamu ajarkan kami ikuti. Tapi syaratnya, hari esok kau ikuti ajaran kami," Ucap lagi Ustadz Khalid Basalamah.

Namun pada akhirnya, Nabi tetap tidak mau mengikuti kaum Quraisy. Ustaz Khalid Basalamah juga menyampaikan, bahwa kaum Quraisy terus berusaha membuat negosiasi dengan Nabi SAW. Namun dengan keteguhannya pula Nabi SAW terus menolak tawaran tersebut secara halus.

Dalam negosiasinya tersebut, Kaum kafir Quraisy mengatakan bahwa ingin Mekkah menjadi milik kaum Quraisy sehari, dan Nabi SAW boleh memilikinya dalam waktu seminggu. Namun, Nabi SAW menolak secara halus tawaran tersebut.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar

Berita Terkait