SuaraBekaci.id - Pengamat Politik dari Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi Adi Susila mengatkan, ada faktor politik kepentingan dalam putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal batas usia capres-cawapres.
Seperti diketahui, meski batas usia tetap 40 tahun, namun seseorang tetap bisa maju di pemilihan presiden (Pilpres) asal memiliki pengalaman menjadi kepala daerah.
Putusan MK ini membuat spotlight mengarah kepada Gibran Rakabuming Raka yang digadang-gadang bakal menjadi calon wakil presiden untuk Prabowo Subianto di Pilpres 2024.
“Saya lihat iya (ada politik kepentingan). Sebenarnya kan masyarakat sudah tahu bahwa yang berkepentingan Gibran, karena dia sendiri di media berkali-kali (mengatakan) dilamar oleh pak Prabowo terus dia jawab gak cukup umur,” kata Adi kepada SuaraBekaci.id, Selasa (17/10).
Adi menyebut bahwa yang memiliki kepentingan besar di putusan MK ini tentu saja Gibran Rakabuming Raka. Hal ini kemudian membuat publik mengkritisi soal dinasti keluarga. Untuk menepis isu itu kata Adi, Jokowi harus berani melarang putra sulungnya itu maju di Pilpres 2024.
“Kalau saya membacanya dari situ, bahwa ini yang berkepentingan memang Gibran. Dan ini akan terbukti besok kalau seandainya Gibran menjadi cawapresnya pak Prabowo,” ujarnya.
“Makanya kalau saran saya mestinya pak Jokowi jangan mengangkat si Gibran untuk jadi wakilnya Prabowo, supaya menepis anggapan yang selama ini berkembang,” sambung Adi.
Selain itu, atas putusan tersebut Adi menilai Mahkamah Konstitusi sedang bermain aman dan tidak konsisten dengan kebijakannya.
“Kan itu termasuk kategori open legal policy ya jadi kebijakan yang menjadi kewenangannya, membuat undang-undang yaitu DPR dan Pemerintah. Tapi tiba-tiba ko MK menambahkan norma baru berarti kan dia gak konsisten dengan kebijakannya dia sendiri. Jadi dia main aman ya, dia tidak mengubah ketentuan tetapi menambahkan norma baru,” jelasnya.
Baca Juga: Isunya Gibran Masuk Golkar, Hasto: Kalau Punya Kesadaran, Kader PDIP Gak Bakal Nolah-noleh
Adi juga menyebut, dengan adanya putusan MK ini mengartikan bahwa demokrasi negara Indonesia telah dibaca dan diatur oleh para elit politik. Sebab, putusan tersebut dinilai tidak ada kaitannya dengan kepentingan publik.
“Menurut saya demokrasi kita dibaca oleh para elit, jadi ini perilaku elit kita. Karena ini bukan tuntutan dari bawah kan. Kalau ini kan memang di bawah gak ada apa-apa kemudian dari elitnya mendesain ini. Jadi ini problemnya orang elit sebenarnya, tidak ada permasalahan kaitannya dengan yang di bawah,” tandasnya.
Kontributor : Mae Harsa
Tag
Berita Terkait
-
Karangan Bunga Ucapan Ultah ke-72 Mulai Disusun di Rumah Prabowo, Ada dari Menteri Hingga Mantan Kepala BIN
-
Isunya Gibran Masuk Golkar, Hasto: Kalau Punya Kesadaran, Kader PDIP Gak Bakal Nolah-noleh
-
Putusan MK Kasih Karpet Merah Buat Anak Jokowi, Sekjen PDIP: Ini Akibat Intervensi Politik
-
Kabar Berhembus Kencang Gibran Masuk Golkar, Nusron Wahid: Beliau Tahu Langkah Terbaik
-
Tim Kuasa Hukum Almas Tsaqibbiru Bantah Dekat dengan Gibran: Saya Kenal, Tapi...
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Seret Nama Pejabat ATR/BPN hingga Politisi, Ini Fakta Terbaru Kasus Korupsi Summarecon
-
Bikin Polusi Udara Parah, Pabrik Arang di Bekasi Disegel
-
Waketum MUI Jadi Saksi Meringankan Dugaan Korupsi Haji Eks Menag Yaqut Cholil
-
26 Sengketa Pilkades Bekasi, Dugaan Ijazah Palsu Mendominasi
-
Hampir 500 Petinju Ramaikan Kejurnas 2026, Hillary Brigitta Lasut Soroti Perjuangan Atlet