SuaraBekaci.id - Anggota Komisi IX DPR RI, Putih Sari mendorong percepatan penanganan stunting atau Gizi buruk kronis di wilayah Kabupaten Karawang.
Hal itu disampaikannya saat menggelar sosialisasi penanganan stunting bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Karawang di Galuh Mas Karawang, Jumat (26/11/2021).
"Hari ini adalah sosialisasi terkait dengan stunting yang memang BKKBN ini kan lembaga negara yang ditugaskan oleh presiden untuk menangani percepatan stunting di seluruh wilayah Indonesia, dan kami Komisi IX DPR RI juga ikut mendorong," kata dia.
Dia menjelaskan, percepatan penanganan stunting itu bisa dilakukan dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat agar mengetahui dan mengerti bagaimana cara mencegah putra-putri mereka dari stunting.
"Jika mereka paham dan mengerti nantinya akan membentuk keluarga ini terhindar dari yang namanya kondisi-kondisi stunting atau gagal tumbuh akibat akumulasi ketidakcukupan zat gizi," ungkap dia.
Putih Sari menyebutkan, Jawa Barat masuk tiga besar angka stunting. Setelah Papua dan NTT. Stunting itu tidak selalu berhubungan dengan kemiskinan.
Stunting tersebut terjadi, kata dia, karena minimnya pemahaman serta pengetahuan mereka-mereka yang akan membentuk keluarga dalam hal ini adalah para calon pengantin. Bagaimana memahami apa saja yang harus diperlukan dalam membentuk keluarga.
Selain dengan kesehatan fisik juga pemahaman yang lainnya seperti pemahaman dalam berkeluarga, kesehatan secara emosional, termasuk juga kesiapan secara ekonomi.
"Ini sangat terkait dengan stunting, anak muda atau calon pengantin hari ini tidak faham terkait hal itu, bagaimana mereka nantinya akan mengurus putra putrinya," ujar dia.
Baca Juga: Ini Pentingnya Konsumsi Susu Untuk Tekan Angka Stunting di Indonesia
Untuk diketahui, Kasus stunting di Kabupaten Karawang pada tahun 2020 berdasarkan data bulan panimbangan balita tercatat 3,8 persen dari jumlah balita. Angka ini naik 1 persen dari tahun 2019 tepatnya 2,8 persen.
Meskipun begitu, angka tersebut relatif kecil ketimbang kasus stunting pada tahun 2018 yakni 13,8 persen bahkan relatif jauh ketimbang kasus stunting pada tahun 2013 yang mencapai 33 persen.
Kontributor: Akhmad Nursyeha
Tag
Berita Terkait
-
APBD Stunting Terus Digunting, Dicky Budiman Soroti Layanan Gizi Ibu dan Anak yang Tergerus
-
Mantan Pekerja Asbes Laporkan Dugaan Penyakit Akibat Kerja ke Pengawas Ketenagakerjaan Karawang
-
Potensi Stunting Kini Bisa Didiagnosis Lebih Awal lewat Teknologi
-
Tim UI Perkuat Kader Posyandu Sitanala, 66 Balita Jalani Pemeriksaan Multidisiplin
-
Ruang Raya Karawang 2026 Bakal Digelar Pekan Ini
Terpopuler
- Di Tangan Suahasil, MBG Jadi Prioritas Subsidi Energi Dipangkas
- Luky Alfirman Jadi Wamenkeu usai Dicopot Purbaya, Pengamat Soroti Arah Kebijakan Suahasil
- Sehari Dijabat Suyudi Ario Seto, Polri Langsung Rombak 19 Kapolda: Ini Daftar Lengkapnya!
- Tan Cheng Hoe Gerah Lihat Pemain Malaysia Larut dalam Kekecewaan: Stop Nangis
- 7 Sepatu Jalan Paling Awet yang Solnya Empuk untuk Perjalanan Jauh
Pilihan
-
Kalapas Cibinong Dipecat dari ASN, Buntut Klaster Mewah dalam Penjara
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
Terkini
-
Aksi Ekstrem Jambret Pakai Kawasaki Ninja, Rampas HP Pakai Dua Tangan
-
BRI Dorong Penyuluh Antikorupsi Jadi Teladan Integritas di Tempat Kerja
-
2 Tersangka Dibebaskan! Kasus Perusakan Rumah di Cikunir Selesai
-
MotoGP Mandalika 2026 Kembali Digelar, BRI Dorong Ekonomi Kawasan Berbasis Pariwisata
-
BRI Kembali Dukung Atlet Nasional, Semangati Kontingen Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026