SuaraBekaci.id - Seorang perempuan mendapat ribuan panggilan telepon dan SMS tak dikenal. Hal ini terjadi setelah nomornya muncul dalam serial Squid Game, tepatnya dalam adegan pembunuhan.
Netflix telah meminta penggemar Squid Game untuk tidak menelpon nomor tersebut.
"Bersama dengan perusahaan produksi, kami sedang bekerja untuk menyelesaikan masalah ini, termasuk mengedit adegan dengan nomor telepon jika diperlukan," kata Netflix, Rabu (6/10/2021).
Melansir BBC, seorang pengusaha perempuan di Seongju, tenggara Korea Selatan, mengatakan kepada media lokal bahwa dia telah menerima ribuan SMS dan panggilan ke teleponnya untuk mengajak bermain, "sampai-sampai sulit bagi saya untuk melanjutkan kehidupan sehari-hari".
"Ini adalah nomor yang telah saya gunakan lebih dari sepuluh tahun, jadi saya cukup terkejut. Ada lebih dari empat ribu nomor yang harus saya hapus dari ponsel saya," katanya kepada Money Today.
"Awalnya saya tidak tahu mengapa, tetapi teman saya memberi tahu saya bahwa nomor saya keluar di Squid Game dan saat itulah saya menyadarinya."
Perempuan itu dilaporkan telah menolak tawaran kompensasi hingga lima juta won (hampir Rp60 juta).
Netflix belum mengomentari klaim kompensasi tersebut dan meminta para penggemar acara itu untuk menahan diri dengan tidak menelepon nomor tersebut.
Squid Game pertama kali ditayangkan pada 17 September dan Netflix mengatakan acara itu menduduki posisi teratas acara paling populer di 90 negara hanya dalam 10 hari.
Squid Game, mencengkeram dunia
Semua orang sepertinya membicarakan serial thriller dengan hiper-kekerasan yang telah menjadi hit besar sejak diluncurkan Netflix pertengahan September lalu ini.
Bahkan, serial Korea ini yang ceritanya berpusat pada permainan bertahan hidup yang brutal , sedikit lagi akan mengalahkan popularitas Bridgerton, drama romansa era Regency di Inggris, untuk menjadi serial orisinil terbesar sepanjang masa.
Meskipun genre serial ini tidak baru, visualisasi yang mengejutkan, karakter yang dekat dengan penonton, dan studi akan sifat-sifat manusia yang mengganggu, diterima dengan baik oleh penonton di seluruh dunia, lapor wartawan BBC Waiyee Yip dan William Lee.
Pembunuhan di taman bermain
Dalam Squid Game, sebanyak 456 orang, terlilit utang dan keputusasaan, mengikuti permainan berdarah untuk bertahan hidup.
Pemenangnya berkesempatan memenangkan 45,6 juta won Korea (US$39 juta atau Rp558 miliar), jika berhasil menang dalam enam seri permainan.
Kejutannya? Jika kalah, mereka mati.
Permainannya sendiri cukup mudah — ini adalah permainan-permainan yang biasa dimainkan para peserta di masa kecil.
Maka, kelindan mengejutkan antara permainan polos dengan kematian yang penuh kekerasan lah yang membuat para penonton tak bisa beranjak.
"Orang-orang tertarik dengan ironi bahwa orang dewasa yang putus asa mau mempertaruhkan hidup mereka demi memenangkan permainan anak kecil," kata sutradara Squid Game, Hwang Dong-hyuk dalam sebuah wawancara.
"Permainannya mudah dan gampang, sehingga para penonton bisa lebih fokus ke setiap karakter ketimbang aturan permainannya yang kompleks."
Juga ada elemen nostalgia di sini.
Misalnya, tantangan sarang lebah Dalgona yang ditampilkan dalam episode tiga, adalah permainan yang banyak dimainkan oleh orang Korea pada saat mereka kecil.
Dalam tantangan ini, peserta harus memotong dengan hati-hati lembaran sarang lebah setipis kertas menggunakan jarum. Jika lembar permen itu pecah, maka dia kalah.
Seorang warga Korea mengunggah cuitan: "Squid Game membuat saya ingin makan [permen] Dalgona lagi. Sudah 20 tahun saya tidak makan… Apakah permen itu masih dijual? Saya rasa saya tidak bisa menemukannya."
Karakter seperti Anda dan saya
Para pengamat juga mengatakan kesuksesan acara ini berkat karakter-karakternya, yang banyak di antaranya dimarginalkan oleh masyarakat.
Meskipun semuanya memiliki permasalahan sama, yakni terlilit utang, mereka semua berasal dari seluruh lapisan masyarakat.
Sang pemeran utama, misalnya, adalah seorang pria pengangguran dengan masalah judi yang berusaha mendapatkan rasa hormat dari keluarganya.
Melalui permainan ini, dia bertemu dengan seorang pembelot muda Korea Utara dengan latar belakang tragis, dan seorang buruh asal Pakistan yang dianiaya oleh majikannya.
Banyak karakter dalam serial ini kaum marginal, namun itu yang membuatnya dekat dengan penonton, kata seorang kritikus.
Kim Pyeong-gang, seorang profesor kebudayaan global di Universitas Sangmyung berkata kepada BBC: "Orang-orang, terutama generasi muda, yang terbiasa mengalami keterasingan dan kebencian di kehidupan nyata, sepertinya mampu bersimpati pada karakter-karakter ini."
Sama seperti tetangga-tetangganya di Asia Timur, budaya hiper-kompetitif di masyarakat Korea Selatan telah membuat banyak orang merasa kecewa.
Meskipun telah bekerja keras, tidak mungkin semua orang bisa masuk universitas terbaik atau mendapatkan pekerjaan yang layak.
Permainan dalam Squid Game, betapapun mematikan, memberikan dunia alternatif yang berdasarkan keadilan.
Seperti kata seorang pemandu permainan dalam seri ini: "Semua peserta permainan ini setara.
"Kami memberikan kesempatan bagi orang-orang yang menerima perlakuan tak setara dan diskriminasi di dunia luar peluang terakhir untuk memenangkan kompetisi secara adil."
Media-media barat membandingkan Squid Game dengan Parasite, film Korea yang memenangkan Oscar pada 2019, yang juga menyuguhkan ketimpangan kekayaan dan ketidakadilan dalam masyarakat.
Namun di Asia timur, para penonton justru mengatakan serial ini mirip dengan sebuah film Jepang yang rilis pada 2014, As The Gods Will.
Karakter pada film ini adalah anak-anak sekolah menengah, namun garis ceritanya cukup mirip. Beberapa orang bahkan menuduh Squid Game plagiat.
Dalam salah satu adegan Squid Game yang paling terkenal, seorang gadis robot raksasa menggunakan mata lasernya untuk menemukan pemain yang kalah. Mereka kemudian dibunuh.
Hwang menepis tuduhan ini. Dia berkata, "tidak ada hubungan" antara kedua film tersebut, dan kemiripan ditemukan oleh banyak orang karena keduanya memiliki genre sama.
"Saya mulai merencanakan [Squid Game] pada 2008 dan mulai menulis naskahnya pada 2009… Kemiripan yang disebutkan sepenuhnya tak disengaja dan tidak ada saling meniru dari kedua belah pihak," ujar dia.
Apapun di baliknya, kepopuleran Squid Game telah membuat penggemar meminta kehadiran musim kedua. Namun, penggemar sepertinya harus menunggu lama sebelum itu terwujud.
"Saya belum memiliki rencana yang bagus untuk Squid Game 2," kata Hwang kepada Variety. "Rasanya cukup melelahkan hanya memikirkannya."
Berita Terkait
-
Lepas Imej Kalem, Mawar de Jongh Tampil Beda di Serial Luka, Makan, Cinta
-
Ryu Jun Yeol dan Hong Kyung Diincar Bintangi Serial Terbaru Netflix Outback
-
Sinopsis Film Mudborn: Kisah Boneka Tanah Liat Pembawa Petaka, Tayang di Netflix
-
Biar Asyik Nonton Film Ozora di Netflix, Coba Simak Dulu Fakta-faktanya
-
Review Bloodhounds Season 2: Bromance Brutal Is Back, Udah Siap Liat Rain Jadi Villain?
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
Terkini
-
Menjawab Tantangan Urbanisasi: Mengapa Teknologi Kebersihan Kini Jadi Investasi Wajib?
-
Bekasi Lolos Syarat Lelang Proyek PSEL, Sampah Siap Diubah Jadi Listrik pada 2028
-
Siap-Siap Hemat Air! BMKG Prediksi Kemarau Jawa Barat Lebih Kering dan Lama
-
Ironi di Fakultas Hukum UI: Saat Tempat Belajar Keadilan Jadi Sarang Kekerasan Seksual
-
Pertina NTT Gugat Menpora: Legalitas Perbati Tak Terbukti di Persidangan, DPP Pertina Beri Dukungan