Kembali ke sejarah Gedung Juang 45, setelah Khouw Tjeng Kee wafat, kepengurusan baik tanah partikelir maupun Landhuis Tamboen jatuh ke tangan putranya, Khouw Oen Hoei.
Saat perang melawan kolonial Belanda, Gedung Juang 45 yang dulu disebut Gedung Tinggi dijadikan tempat pertahanan oleh para pejuang kemerdekaan yang itu berpusat di wilayah Tambun dan Cibarusah.
Gedung ini juga menjadi tempat perundingan pertukaran tawanan antara Belanda dengan para pejuang kemerdekaan Indonesia. Pejuang kemerdekaan Indonesia dipulangkan oleh Belanda ke wilayah Bekasi dan tentara Belanda dipulangkan ke Batavia melalui Stasiun Tambun.
Saat Jepang datang ke Indonesia, Gedung Juang 45 pindah kepemilikan. Gedung ini kemudian dijadikan markas utama bagi penjajah Jepang. Dalam perjalanan sejarahnya, gedung ini sempat menjadi kantor Kabupaten Jatinegara pada 1945.
Baca Juga:Sandiaga Buka Suara Soal Polemik 'Ndasmu Etik' Prabowo: Dua-duanya Mantan Saya, Gak Usah Kompor!
Singkat cerita, setelah Reformasi 1998, tepatnya pada 1999, gedung ini pernah menjadi kantor sekretariat Pemilu dan Dinas Kebersihan serta Pertamanan, serta Kantor Pemadam Kebakaran.
Apa yang Ada di Gedung Juang 45?
Saat ini Gedung Juang 45 cukup sering dikunjungi oleh warga Bekasi. Bagi orang Bekasi yang ingin mengetahui perjalanan sejarah memang bisa mengunjungi tempat ini.
Di Gedung Juang 45, banyak terdapat ruangan yang menampilkan foto-foto sejarah Bekasi dari masa penjajahan hingga masa kemerdekaan. Setelah direnovasi, gedung ini juga memiliki ruang digital yang menampilkan perjalanan sejarah Gedung Juang 45 dari masa ke masa.
Selain itu, di Gedung Juang 45 juga ditampilkan literasi sejarah mengenai keberadaan Kerajaan Tarumanegara. Ada juga ruang tiga dimensi yang memperlihatkan perjuangan rakyat Bekasi melawan penjajah.
Baca Juga:Maut di Gerbang Sekolah: Siswa SMK di Cikampek Tewas dengan Luka Bacok di Tubuh
Lalu di Gedung Juang 45 juga terdapat stand yang dikhususkan untuk menjual sejumlah produk UMKM Bekasi.