"Di setiap sekolah itu banyak kekurangan guru, mereka selalu bilang 'butuh guru, butuh guru', sedangkan kita tidak punya cadangan guru itu sama sekali kita tidak punya," keluh Yanti.
Soal pola rekuitmen yang dilakukan sekolah untuk mencari TKK hanya lulusan SMA juga tidak diketahui oleh pihak Dinas Pendidikan Kota Bekasi.
Yanti menyebut yang diketahui pihaknya ialah bahwa sekolah banyak kekurangan guru.
"Tidak semuanya tahu, yang kita tahu mereka kekurangan guru, terusnya mengatasinya itu ya kaya begitu, TU yang dianggap layak bisa mengajar," kata Yanti.
Baca Juga:Kasus Perundungan dan Pelecehan Anak di Tasikmalaya Meningkat, Ada 48 Kasus dari Januari-Juli 2022
Kendati demikian, saat ini pihaknya sedang mendata sekolah mana yang masih memperdayakan tenaga pengajar lulusan SMA.
"Mendata, mewajibkan mereka kuliah S1 keguruan," ujar Yanti.
Semantara itu pengamat pendidikan Imam Kobul Yahya, mengecam keras terkait tenaga pengajar yang hanya lulusan SMA.
"Tetap tidak boleh mengangkat guru yang bukan S1, bahkan sebisa mungkin harus linear," kata Imam.
Imam menduga jika ada guru lulusan SMA dan bisa mengajar, kemungkinan tenaga pengajar lama atau ada keluarganya di sekolah tersebut.
Baca Juga:Publik Heboh dengan Video Pria Diduga Pelaku Pelecehan Anak di Mal: Waspada, Predator Anak Itu Nyata
"Biasanya jika ada guru yang belum S1, kemungkinannya, dia bisa jadi guru karena ada orang dalam (family atau bayar) atau, guru lama tahun 70-an," kata Imam.