Muhammad Yunus
Minggu, 16 Agustus 2026 | 05:53 WIB
Kapolda Aceh Irjen Pol Ruddi Setiawan (berdiri kanan) berupaya menenangkan massa di Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026). ANTARA/M Haris SA
Baca 10 detik
  • Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla menyoroti kerusuhan dalam peringatan 21 tahun perdamaian Aceh di Banda Aceh pada 15 Agustus 2026.
  • Jusuf Kalla menyatakan kerusuhan tersebut timbul akibat ketidakpuasan kelompok kecil terhadap kepemimpinan lokal, bukan penolakan terhadap pemerintah pusat.
  • Ia menegaskan aksi tersebut tidak mencerminkan keinginan mayoritas masyarakat yang telah menikmati kemajuan dan kesejahteraan selama dua dekade damai.

Meski demikian, Kalla menegaskan aksi tersebut tidak mewakili suara mayoritas masyarakat Aceh yang menginginkan perdamaian.

Ia mengingatkan bahwa perdamaian telah membawa banyak perubahan positif bagi Aceh.

"Rakyat Aceh selalu ingin damai dibanding dengan kejadian pada konflik itu. Perdamaian ini telah membawa kemajuan, ekonomi masyarakat berkembang lebih baik, kebebasan, pendidikan, dan sosial jauh lebih baik dibanding sebelumnya," jelasnya.

Kalla juga menyebut, dari berbagai pernyataan yang muncul, tidak terlihat adanya penolakan terhadap pemerintah pusat.

Menurutnya, persoalan lebih mengarah pada ketidakpuasan terhadap kelompok atau pemimpin di tingkat lokal.

"Tidak ada yang mengarah ketidaksenangan kepada pemerintah pusat, tapi ketidaksenangan kepada yang memimpin mereka sendiri. Itu yang terjadi," katanya.

Ia berharap masyarakat Aceh dapat mengambil pelajaran dari perjalanan perdamaian selama 21 tahun terakhir.

Menurutnya, berbagai hak dan dukungan pemerintah melalui dana otonomi khusus telah memberikan manfaat besar bagi pembangunan Aceh.

"Ini masa di mana otonomi khusus telah diberlakukan dibanding daerah lain. Ada dana otsus, dana ekonomi, dan hak-hak yang diperoleh jauh lebih baik dibanding banyak daerah," ujar Kalla.

Baca Juga: Jusuf Kalla: Indonesia Harus Perkuat Teknologi dan Ciptakan Lebih Banyak Wirausaha

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat Aceh menjaga stabilitas dan tidak mengorbankan kemajuan yang telah dicapai selama dua dekade terakhir akibat konflik baru.

"Yang penting masyarakat memahami bahwa perdamaian telah membawa kemajuan dan kesejahteraan. Jangan sampai apa yang sudah dicapai selama 21 tahun ini terganggu," pungkasnya.

Load More