Penangkapan karbon
Penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) biasanya mengacu pada jenis filter pada cerobong asap industri dan proyek untuk menyimpan karbon di bawah tanah, misalnya di lahan bekas ladang minyak.
Sebagian besar proyek CCS saat ini mampu melakukan dekarbonisasi proses industri beremisi tinggi. Mereka tidak menyedot karbon dari atmosfer, tapi sebaliknya, mencegah masuknya karbon ke atmosfer.
Meskipun teknologi itu terbukti efektif, kapasitas CCS global hanya sekitar 40 juta ton setara karbon dioksida (CO2e).
Bagaimana dengan emisi negatif?
Ada teknologi yang menghasilkan emisi negatif, misalnya direct air capture (DAC), proyek yang menggabungkan bioenergi dan teknologi untuk menangkap dan menyimpan emisi karbon.
Sebuah laporan dari Koalisi untuk Emisi Negatif (CNE) pada Juni mengatakan bahwa proyek-proyek dalam pengembangan hanya mampu menghilangkan sekitar 150 juta ton CO2 pada 2025.
Angka itu jauh lebih kecil dari total emisi global yang mencapai rekor 59,1 miliar ton pada 2020, menurut laporan Program Lingkungan PBB.
Anggaran karbon
Gas rumah kaca tidak hanya terdiri dari CO2 tapi juga gas-gas seperti CH4 (metana) dan N2O (nitrogen oksida), yang sering dinyatakan dalam ton setara CO2 atau tCO2e.
Pada 2019, konsentrasi CO2 di atmosfer lebih tinggi daripada kapan pun setidaknya dalam 2 juta tahun dan konsentrasi CH4 dan N2O lebih tinggi daripada kapan pun setidaknya dalam 800.000 tahun.
Emisi CO2e mencapai rekor 59,1 miliar ton pada 2020, menurut laporan Program Lingkungan PBB pada April.
Emisi tahunan harus diturunkan jadi 25 miliar ton CO2e pada 2030 untuk membatasi peningkatan pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius, kata laporan itu.
Suhu permukaan bumi sudah 1,09 derajat Celcius lebih tinggi pada 2011-2020 dibandingkan pada 1850-1900, periode yang menjadi acuan kenaikan suhu.
Jika dunia terus berjalan seperti saat ini, kenaikan suhu bisa menjadi 2 derajat Celcius pada 2060 dan 2,7 pada akhir abad ini, kata Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim.
Berita Terkait
-
Pertamina Jajaki Penguatan Kerja Sama dengan EOG Resources untuk Dorong Peningkatan Produksi Migas
-
Mampu Serap Banyak Karbon, Lahan Gambut Jadi Fokus Penelitian Global Untuk Perkuat Kebijakan
-
Peneliti Ungkap Hubungan Penyusutan Danau Turkana dengan Aktivitas Gempa Bumi
-
Dosa Lingkungan di Balik Label 'Ramah Bumi' yang Estetik
-
Maaf Aku Lahir ke Bumi: Refleksi tentang Luka yang Tidak Pernah Bersuara
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Hillary Brigitta Apresiasi Kebijakan Tanpa Batas Usia Relawan MBG: Untuk Kesetaraan Peluang Kerja
-
Sengketa Pipa Limbah Jababeka dan MAP, Jadi Alarm Kepastian Investasi di Kawasan Industri
-
Bukan Sekadar Event, Ini Cara Specteve Membuktikan Bekasi Punya Identitas Kultural
-
Polisi Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Dugaan Eksploitasi Anak
-
Kemendagri Percepat Dokumen Kependudukan Keluarga Korban Kecelakaan KRL