Daging Sapi Langka di Bekasi: 5 Fakta di Balik Aksi Mogok Pedagang

Kelangkaan daging sapi segar tengah melanda wilayah Kabupaten Bekasi dan sekitarnya

Muhammad Yunus
Sabtu, 24 Januari 2026 | 18:31 WIB
Daging Sapi Langka di Bekasi: 5 Fakta di Balik Aksi Mogok Pedagang
Ilustrasi: Warga membeli daging sapi di Pasar Senen, Jakarta, Senin (11/3/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Pedagang daging Jabodetabek mogok berjualan sejak Kamis hingga Sabtu sebagai protes kenaikan harga karkas di RPH.
  • Harga sapi hidup naik signifikan menyebabkan harga eceran daging segar mencapai Rp150.000 per kilogram di pasaran.
  • Dampak kerugian ekonomi di Kabupaten Bekasi akibat mogok ini diperkirakan mencapai Rp2 miliar setiap harinya.

SuaraBekaci.id - Kelangkaan daging sapi segar tengah melanda wilayah Kabupaten Bekasi dan sekitarnya.

Aksi mogok massal yang dilakukan para pedagang daging sejak Kamis (22/1) hingga Sabtu (24/1) memicu kekosongan stok di pasar tradisional.

Berikut adalah 5 fakta penting yang perlu Anda ketahui mengenai kondisi kelangkaan daging saat ini:

1. Aksi Mogok Serentak Se-Jabodetabek

Baca Juga:Karung Pasir dan Bronjong Jadi Tameng Sementara Warga Bekasi

Kelangkaan ini bukan tanpa alasan. Para pedagang yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) melakukan aksi mogok berjualan selama tiga hari berturut-turut.

Aksi ini dilakukan serentak di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi sebagai bentuk protes atas tingginya harga karkas di Rumah Pemotongan Hewan (RPH).

2. Lonjakan Harga yang Tak Terkendali

Pemicu utama mogok kerja ini adalah harga sapi hidup yang melambung tinggi. Berdasarkan data Dinas Perdagangan:

Harga Sapi Hidup: Naik menjadi Rp55.000 - Rp60.000/kg (dari semula di bawah angka tersebut).

Baca Juga:Polisi Bongkar Alasan Pelaku Bunuh Teman Sendiri di Pemakaman Bekasi

Harga Eceran: Melonjak hingga Rp140.000 - Rp150.000/kg, jauh di atas harga normal yang berkisar antara Rp120.000 - Rp130.000/kg.

3. Kerugian Ekonomi Mencapai Rp2 Miliar per Hari

Dampak paling nyata dirasakan oleh para pengusaha kuliner, khususnya pedagang mi dan bakso. Paguyuban Pedagang Mi dan Bakso (Papmiso) mencatat:

Di Kabupaten Bekasi saja, terdapat sekitar 2.000 pedagang yang terdampak.

Potensi kerugian ekonomi di Bekasi mencapai Rp2 miliar per hari.

Secara nasional (20.000 pedagang), kerugian ditaksir menembus Rp20 miliar per hari.

4. Daging Beku Jadi Solusi Darurat

Dinas Perdagangan Kabupaten Bekasi mengimbau pedagang makanan agar beralih sementara ke daging sapi beku yang tersedia di swalayan.

Selain stoknya yang melimpah, harga daging beku relatif lebih stabil dan terjangkau, yakni berkisar antara Rp100.000 hingga Rp105.000/kg.

5. Desakan Perbaikan Tata Niaga

Ketua Papmiso, Bambang Haryanto, mengingatkan kembali janji pemerintah terkait pembenahan tata kelola niaga daging sapi.

Para pedagang berharap pemerintah bertindak tegas terhadap oknum pedagang besar yang diduga memainkan harga.

Agar stabilitas harga daging segera kembali normal demi kesejahteraan pedagang kecil.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Bisa Ganti Pekerjaan, Apa Profesi Paling Pas Buat Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Tipe Traveler Macam Apa Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Jodoh Motor, Kuda Besi Mana yang Paling Pas Buat Gaya Hidup Lo?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini