SuaraBekaci.id - Varian baru virus corona yang pertama kali ditemukan di Inggris membuat heboh berbagai negara. Bahkan, mutasi itu kini ditemukan di sejumlah negara.
Salah satunya ialah Afrika Selatan. Bahkan, banyak pihak mulai khawatir dengan efektivitas vaksin yang tengah dalam proses pengembangan.
Salah satunya Profesor Kedokteran Regius di Universitas Oxford Sir John Bell. Ia khawatir mutasi virus corona SARS Cov-2 Afrika Selatan bisa mempengaruhi efektivitas vaksin. Menurutnya, varian virus di Afrika Selatan itu lebih memprihatinkan daripada strain Kent karena mampu menular lebih cepat.
Profesor Sir John juga yakin bahwa strain Afrika Selatan sudah ada di Inggris, meski pada tingkat yang sangat rendah, katanya kepada Times Radio. Jenis Covid dari Afrika Selatan yang ditemukan pada pertengahan Desember itu dinamakan 501.V2.
Para ahli menekankan tidak ada bukti jenis baru itu lebih mematikan, tetapi jumlah orang yang dites positif Covid meningkat tiga kali lipat dalam tiga minggu di Afrika Selatan.
Sir John menekankan bahwa belum ada jawaban pasti, apakah vaksin Pfizer dan Oxford akan bekerja pada varian virus corona Afrika Selatan atau tidak. Meski begitu, menurutnya, vaksin baru dapat dibuat dalam waktu empat hingga enam minggu jika vaksin yang telah ada saat ini tidak berfungsi pada varian baru tersebut.
Ketika ditanya varian virus mana yang lebih dia khawatirkan, Sir John menjawab varian Afrika Selatan dengan beberapa margin. Menurutnya, mutasi dalam bentuk Afrika Selatan adalah perubahan yang cukup substansial.
"Tidak ada data (apakah lebih berbahaya), yang pasti lebih menular. Orang Afrika Selatan jelas kesulitan mengatasinya meskipun mereka tidak dapat memberikan data apa pun kepada kami saat ini," katanya dikutip dari Mirror.
Sir John mengatakan tim di Oxford sekarang sedang melihat bagaimana vaksin dapat menangani varian yang berbeda itu.
Baca Juga: Wisatawan Penuhi Wisata MBS, Jumlah Capai Ribuan Pengunjung Dalam Sehari
"Masih ada penelitian yang harus dilakukan, tetapi jika Anda bertanya firasat saya, saya pikir vaksin itu akan efektif melawan strain Kent dan saya tidak tahu tentang strain Afrika Selatan. Saya pikir ada tanda tanya besar di atas itu," ucapnya.
Meski begitu, Sir John meyakini mutasi virus tidak mungkin akan mematikan efek vaksin sepenuhnya.
"Saya pikir Anda masih akan memiliki efek residu, jadi pertanyaannya apakah kita dapat membuatnya bekerja. Jika kami tidak bisa (memastikan), sangat mungkin membuat vaksin baru dan itu tidak akan memakan waktu satu tahun," tuturnya.
Ketidakpastian itu, lanjut Sir John, lantaran para peneliti juga dihadapkan pada banyaknya mutasi virus yang terjadi. Ia menekankan agar publik harus tetap tenang dan meyakini akan baik-baik saja.
Berita Terkait
Terpopuler
- Presiden RI Minta Maaf ke Malaysia - Singapura Akibat Asap, Tapi Itu SBY...
- Rudy Masud Senyum Semringah Bersama Istri di Singapura, Media Asing: Rakyatnya Sesak Nafas
- Wapres RI Mundur Saat Ekonomi Bergejolak, Hubungan Dengan Presiden Memburuk
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Usia 50 Tahun ke Atas, Wajah Kencang dan Awet Muda
- Rudal Houthi Ancam Piala Asia 2027 di Arab Saudi: AFC Bungkam, Jepang Resmi Mundur dari Turnamen
Pilihan
-
Maruli Simanjuntak Disebut Dilantik Prabowo Jadi Wakil Panglima TNI, Kamis Sore Ini
-
Kompak Berpakaian Dinas Lengkap Sambangi Istana, Perwira Tinggi TNI Siap Dilantik Prabowo
-
Belajar Hadapi Kekeringan dari Romo Kirjito, Mamanen Air Hujan yang Jatuh dari Langit
-
Krisis! Kelangkaan BBM Meluas Tak Hanya Bali, Antrean Berjam-jam
-
Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud Bungkam usai Viral Sarapan di Singapura
Terkini
-
Dorong Ekonomi Kerakyatan, BRI Perkuat Sinergi Pengembangan Koperasi Desa Merah Putih
-
DPP Gempar Tegaskan Hillary Brigitta Lasut Sah Pimpin Panitia Natal Nasional 2026, Ini Dasarnya
-
Berkat Inovasi Digital dan Layanan Nasabah, BRI Raih 36 Penghargaan di TBCCI 2026
-
4 Laporan Masuk, 1 Jadi Tersangka Kasus Asusila di Pesantren Bekasi
-
Operasi Sarang Narkoba di Bekasi: Komplotan 'Paman' dan 'Macan' Tak Berkutik