SuaraBekaci.id - Pelatih Arema FC, Javier Roca beberkan tragedi Kanjuruhan pasca pertandingan Arema vs Persebaya pada 1 Oktober 2022 yang menewaskan ratusan orang dan lainnya luka-luka. Pelatih asal Cile itu, menyoroti soal kesiapan stadion dan tindakan polisi di tragedi tersebut.
Kepada media Spanyol, Cadena Ser seperti dikutip SuaraBekaci.id dari sport.tv2.dk, harus diakui bahwa tragedi Kanjuruhan diduga disebabkan faktor ketidaksiapan panpel serta aparat kepolisian pada laga Arema vs Persebaya.
"Telah terbukti bahwa stadion belum siap. Mereka tidak mengharapkan kekacauan itu. Hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya di stadion dan semua berantakan karena banyak orang yang mencoba melarikan diri," kata Roca.
"Saya pikir polisi melewati batas, meskipun saya tidak ada di sana dan tidak melihat apa yang terjadi," ucapnya.
Namun ditegaskan Roca, jika melihat dari tayangan video dan foto yang beredar luas di sosial media, aparat polisi kata Roca bisa menggunakan metode lain untuk meredam situasi ricuh pasca pertandingan.
"Tapi jika Anda melihat gambarnya, mereka bisa saja menggunakan teknik lain. Tidak ada hasil dalam pertandinga, tidak pedulu seberapa penting itu saat ini. Itu semua tidak sepadan dengan kehilangan nyawa," ucap Roca.
Menurut Roca, tidak hanya soal bagiaman polisi tidak seharusnya gunakan gas air mata ke arah tribun. Soal tiket pertandingan juga menjadi sorotan dirinya.
"Tidak hanya penggunaan gas air mata. Tetapi juga penjualan tiket yang berlebihan dan sikap masyarakat. Ada pertempuran sengit di luar pertandingan," ucapnya.
"Ini adalah stadion yang cukup jauh dari pusat kota dan mobil ambulans terlebat tiba. Kota ini kecil dan tidak memiliki kapastias untuk membutuhkan 100 atau 200 ambulance di kondisi seperti kemarin,"
Baca Juga: Bersiap Lawan Persebaya, Ini Jurus Jitu Javier Roca
Javier Roca menceritakan bagaimana situasi kalut dan menakutkan yang ia alami di ruang ganti saat polisi menembakkan gas air mata ke arah tribun penonton.
"Mental saya hancur. Saya merasakan beban yang berat, bahkan tanggung jawab yang berat,"
"Setelah pertandingan, saya pergi ke ruang ganti dan beberapa pemain tetap di lapangan. Ketika saya kembali dari konfrensi pers, saya melihat tragedi itu,"
"Seorang remaj berjalan dengan menggendong korban di tangan mereka. Hasil pertandingan mendikte kita dan menentukan apa yang terjadi akhirnya. Jika kami bermain imbang, itu tidak akan terjadi," kata Roca.
Bayangan kengerian tragedi Kanjuruhan kata Roca masih berbekas di ingatannya. Ia menyebut ada suporter yang meninggal di pelukan anak asuhnya.
"Yang paling mengerikan saat korban masuk untuk dirawat oleh tim dokter. Sekitar dua puluh orang masuk dan empat meninggal. Ada suporter yang meninggal di pelukan pemain," ucapnya.
Tag
Berita Terkait
-
Komentari Tragedi Kanjuruhan Usai Man City Bantai Manchester United, Pep Guardiola: Dunia Sudah Gila
-
Gilang Juragan 99 Menangis dan Siap Santuni Korban Tragedi Kanjuruhan: Semua Pendukung Arema, Saya Menerima Apapun!
-
Mahfud MD Pimpin TGIPF Tragedi Kanjuruhan Berdarah, Ada Nama Kurniawan DY Hingga Doni Monardo dalam Timnya
-
Lakukan Tabur Bunga di Lokasi Tragedi Kanjuruhan, Pelatih Arema FC: Semoga Hari Ini Titik Kedamaian Dimulai dari Malang
-
7 Sanksi FIFA Hantui Indonesia Imbas Tragedi Stadion Kanjuruhan
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- 5 Sabun Mandi Vitamin C Terbaik untuk Mencerahkan Kulit Belang, Lengkap dengan Review Pengguna
- Daftar Shio yang Paling Tidak Cocok dengan Shio Macan dalam Bisnis dan Asmara
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Gubernur Sulsel Telepon Langsung Pemilik SPBU
Pilihan
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
Terkini
-
5 Tahun Holding Ultra Mikro, Ekosistem UMKM Makin Kuat
-
5 Bencana Dihadapi Indonesia Saat Ini
-
Kisah Perjuangan Tati Purwanti, Mantan PMI yang Sukses Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei
-
Perkuat Layanan Digital bagi PMI, BRImo Taiwan Sabet Anugerah Inovasi Indonesia 2026
-
KPK Terbitkan Sprindik Baru Kasus Suap Bupati Bekasi Nonaktif Ade Kuswara, Siapa Tersangka Baru?